“Apakah pakai busana yang bersimbolkan agama itu tidak baik, Kiai? Ampun, Kiai.”

“Jelas gak baik alias brengsek kalau kamu tidak sanggup membawa perilaku yang luhur dan mendamaikan. Karena simbol-simbol itu hanyalah berhala yang seharusnya kamu kapak sebagaimana yang dilakukan Kanjeng Ibrahim”

Demikian, adalah kutipan salah satu penggalan percakapan antara Kiai Sutara dengan santrinya. Siapakah Kiai Sutara ini? Kenapa kata-katanya terlihat begitu ‘keras’, tegas, penuh keyakinan?

Ada alasan yang sangat mendasar, untuk selalu mengelak menjelaskan ‘siapakah Kiai Sutara’. Dasar pertama, karena saya bukanlah orang yang dekat dan mengenalnya secara detail. Semisal kedekatan saya pada bapak atau ibu, atau teman-teman ngopi yang biasa ngobrol dan berdebat sampai pagi.

Dasar kedua, karena Kiai Sutara sendiri adalah sosok yang selalu mengelak untuk menjelaskan dirinya sendiri. Lalu, siapa lagi yang punya otoritas membiografikan dirinya? Kalau orangnya sendiri tak bicara.

Tentang Kiai yang satu ini, pembacaan atasnya hanya bisa dilakukan satu-satu; lembar per lembar. Tidak mungkin menghatamkan satu buku full tentangnya. Lalu meresume dan mereview sekenanya. Walaupun seilmiah apapun itu.

Jika harus merujuk, mungkin Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) yang sesama kiai dapat sedikit membantu. Dalam Pesan Islam Sehari-Hari (Mustofa Bisri, 1999: 93) menjelaskan bahwa seorang kiai adalah simbol ‘warisan nabi’ yang hidup di tengah masyarakat. Ada ayat-ayat qur’ani dan nilai-nilai kesunnahan dalam setiap gerak mereka. Dari nafas, senyum, diam dan keputusan hidupnya adalah perlambang Alquran dan Hadis.

Sampai di sini, saya sangat klik dengan Gus Mus. Kiai adalah warisan nabi yang hidup. Ini adalah terma yang sepaket. Menyebut sepenggalan tanpa bagian lainnya, jauh dari cukup. Kiai adalah variabel komplit dari ilmu kenabian dan laku keseharian. Ilmu kenabian saja—hafal Alquran tuntas sampai lekuk coretan per lembarnya dan hafal ribuan-jutaan matan hadis—tidak cukup. Butuh ekstraksi sedemikian rupa, sehingga dalil ilmu itu merupa ‘laku’. Seperti saat ‘Aisyah, istri Rasul yang paling cerdas ditanya siapa Nabi, dia jawab: Nabi adalah Alquran berjalan.

Jadi, kiai sangat jauh kesannya dari semisal ustadz panggung atau ustadz sosial media. Hafalan dalil Alquran dan Hadis, sekaligus serangkaian deretan dalil qouli para ulama yang nampak ndakik dan cerdas luar biasa, belum cukup membawa seseorang di-kiai-kan.

Seorang motivator kadang-seringnya memang sangat meyakinkan: gestur katanya tegas, indah, rasional, dan meneduhkan.  Tetapi modal itu saja, tak cukup untuk membawanya sebagai seorang kiai.

Kembali pada Kiai Sutara. Walaupun tidak bisa dikatakan sebagai antitesis kecenderungan budaya kulit dalam beragama. Tapi bisa dikatakan bahwa kiai Sutara—yang dalam satu ujarnya, “popularitas itu najis bagi saya”—ini adalah kebeningan kritik terhadap fenomena kekulitan dalam beragama.

Mengapa agama harus seperti buah? Ada kulit ada isi. Bagaimana bila dikatakan saja raga dan ruh, misalnya? Atau bahasa-bahasa lain yang lebih anyles-medhuk semisal proyeksi-esensi, idea-materia atau sein-seinde? Terserah saja. Kiai Sutara adalah kesemua itu.

Kiai Sutara adalah luapan energi yang terukur. Bukan jenis manusia lemah syahwat yang, kutuk serapah lebih nyaring daripada kiprah. Tidak pula terlalu menggebu, sehingga meledak menjadi dentuman.

Dalam tiap tutur katanya, Kiai Sutara mencari bungkus bahasa yang paling sesuai. Terkadang dia berdalil, lengkap dengan rujukan detail kitab dan pengarangnya. Terkadang dia hanya mengambil kiasan-kiasan perasan dari lagunya Ummi Kultsum, partitur Mozart, Bach, Bethoven, Elvi Sukaesih, keroncong, gendhing, ketoprak, wayang, lagu anak-anak, jazz, blues, apa saja. Selama kata dan makna dapat tersampaikan, baginya tak jadi soal.

Kiai Sutara jelas bukan sosok wingit yang gemar ber-kembang dan berdupa. Berbicara atas nama wangsit dan bisikan-bisikan serupa itu. Tetapi ketika menjelaskan tentang tradisi dan kegaiban, dia tampak sangat mengenal sampai seluk-seluk belukarnya.

Tak jarang Kiai ini mengutip Immanuel Kant, Descartes, Spinoza, Nietzsche, Heideggger, dan yang serupa mereka itu. Jika menurutnya penting. Aneh, pecah, waras, wajar dan penuh petuah. Sosok yang menyatu dalam diri satu orang.

Kiai Sutara tidak pernah cadel bicara topik apapun. Intonasi dan pilihan diksinya sebegitu unik. Namun selalu dapat menautkan semua itu dengan sentrum esensi kenabian, esensi ketauhidan, esensi keislaman.

Misalnya saat Kiai Sutara menjelaskan tentang hubungan politik dan agama. Mungkin hanya melalui tesis Habermas tentang Post-Sekularisme yang sedikit-sedikit dapat menafsirkan maksudnya. Agama bukan sebatas pergumulan privat non politis. Sedemikian dengan politik, ialah bukan semata keduniaan tanpa isi. Agama di masa-masa ini butuh untuk dapat mewajahkan nilai-nilai inherennya ke dalam ‘bahasa umum’ yang bisa diterima, dikaji, diuji oleh publik manapun. Sekalipun oleh para penganut atheisme (Budi Hardiman, 2018: 211).

Santri-santri Kiai Sutara tidak pernah tahu dari mana dia belajar politik, atau tentang para filsuf peletak dan penjaga peradaban Barat. Jelas kiai ini tidak pernah kuliah. Tapi beberapa tamunya (santri) adalah mahasiswa dan para dosen. Semuanya tidak dalam rangka sharing dan diskusi, tetapi lebih pada ndeprok meminta arahan dan nasehat kepada kiai ini.

Ada lagi yang menarik. Kiai Sutara adalah seseorang yang fasih bicara “goblok, udhelmu, ndasmu, otak dengkul, jancuk, dan sebangsa itu semua”. Nafasnya teratur, halus. Padahal perokok berat. Usianya tua, namun tak rabun dan giginya masih utuh. Diksi tuturnya jelas, wajah pandangnya meneduhkan. Bahkan saat sedang berakting marah.

Terakhir. Kiai Sutara adalah tokoh utama dalam buku Dalil Kiai Sutara. Buku ini bukan kumpulan renungan magis. Bukan pula makalah ilmiah. Hanya kumpulan cerita-cerita tentang kisah santri gelisah yang sowan minta arahan-pencerahan pada seseorang, yang baginya adalah Kiai. Fiksi atau bukan, saya kira, saya tak perlu menjawabnya.

 

Judul                : Dalil Kiai Sutara

Penulis             : Taufik Wr. Hidayat

Penerbit          : Pusat Studi Budaya Banyuwangi, Juli 2020

Dimensi           : 14×20 cm

Tebal               : V+319 halaman

ISBN                 : 9-786025-352133

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here