Sampai saat ini seksisme masih sangat eksis di kalangan masyarakat. Bahkan, menjadikan seksisme sebagai bahan lelucon yang mendominasi kehidupan sepertinya sangat lumrah. Tanpa disadari, orang yang melakukan tindakan tersebut tidak memikirkan dampak apa yang akan terjadi.

Seksisme sering kali kita temukan dalam bentuk persepsi menyudutkan. Bukan hanya dalam bentuk persepsi, bahkan secara tidak sadar perilaku kita bisa jadi bentuk seksisme yang melemahkan kejiwaan seseorang. Seperti contoh anggapan perihal peran perempuan, dengan menggiring persepsi bahwa perempuan hanya bisa menikah, merawat anak, dan mengurusi pekerjaan rumah.

Seksisme hidup karena diwarisi oleh tradisi masyarakat kuno yang sudah turun-temurun. Bahkan seksisme ini dalam keluarga menjadi didikan orang tua kita. Misalnya “Anak laki-laki itu jangan masak, itu kerjaannya perempuan”. Seksisme telah menjadi norma yang lazim, benar-benar lekat pada keseharian kita.

Seksisme terjadi bukan pada perempuan saja. Sebaliknya laki-laki juga dihadapkan dengan persepsi-persepsi yang sangat diharuskan, kadang dipaksakan. Seperti misalnya “Laki-laki harus punya cita-cita tinggi karena laki-laki yang akan memimpin“. Persepsi ini akan berkembang menjadi komentar bernada kebencian bahkan bersikap melecehkan, membenci atau mendiskriminasikan pun tidak akan segan dilakukan.

Timbulnya pola pikir yang seksis ini menjadi tantangan tersendiri dalam mewujudkan kesetaraan gender di lingkungan masyarakat. Dalam hal ini masyarakat maupun pemerintah harus memiliki terlebih dahulu pandangan mengenai kesetaraan gender agar terwujudnya bentuk perilaku,aturan yang adil tentang gender. Meskipun hal tersebut sulit untuk dihapuskan dalam diri masyarakat, karena memang sejak lahir kita sudah dibentuk dengan norma dan budaya yang cenderung patriarkis dan merendahkan.

Seksisme merupakan salah satu akar masalah kesetaraan gender, kenapa? Karena yang saya tahu masyarakat masih belum semuanya memahami “konsep kesetaraan” antara perempuan dan laki-laki. Hal ini lah yang memicu akar tersebut semakin bercabang. Seksisme disini adalah yang terwujud dalam bentuk ucapan, perlakuan dan aturan diskriminatif yang merugikan.

“Perempuan kok tomboy!”

“Dih, laki-laki kok nangis!”

Seperti itulah kata-kata yang mungkin sering dilontarkan. Budaya seksisme ini secara tidak langsung memberikan penekanan bahwa setiap laki-laki ataupun perempuan untuk bersaing dalam mencapai ideal yang sudah ada pada masyarakat. Misalnya laki-laki harus macho, kuat, dan sebagainya sedangkan perempuan dituntut untuk tampil feminin.

Kesetaraan gender merupakan bentuk hak asasi manusia, hak untuk hidup secara layak, terhormat, dan bebas menentukan pilihan. Timbulnya seksisme ini tidak bisa dipungkiri lagi bahwa laki-laki dan perempuan hidup dalam bayang-bayang di mana laki-laki harus memiliki derajat lebih tinggi sedangkan perempuan seringkali dianggap lemah dan hanya menjadi sosok pelengkap. Perempuan hanya sebatas bekerja di rumah, lebih tepatnya sebagai ibu rumah tangga.

Semua hal yang berkaitan dengan jenis kelamin sangat membatasi ruang gerak. Kita tidak bisa menyamaratakan sesuatu hal yang kita sukai dengan orang lain. Tidak semua laki-laki harus tampil macho dan apakah semua perempuan harus lekat dengan label feminimnya? Kita tidak mempunyai hak atas pilihan mereka, jadi untuk apa kita mengkritik dan memberi cap yang tidak pantas kepada mereka? Banyak sekali dari mereka merasa tidak nyaman dengan apa yang mereka lakukan, mereka sulit untuk berekspresi, dan takut menunjukkan diri mereka yang sebenarnya. Itu semua karena apa? Karena pikiran dan ucapan-ucapan misoginis masyarakat yang begitu kental.

Melawan Seksisme tentu tidak mudah, apalagi ketika kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang menjunjung patriarki. Hal paling pertama yang harus kita lakukan untuk melawan seksisme adalah mengidentifikasi praktek itu sendiri. Identifikasi ini susah apalagi jika sudah ada internalisasi nilai-nilai kultural atau religius yang kita yakini. Hal ini tidak bisa disalahkan karena masing-masing individu tumbuh berkembang dengan susunan nilai masing-masing.

Namun sejak awal, kita bisa melawan seksisme dengan menerima dan meyakini dua hal. Pertama, laki-laki dan perempuan itu berbeda dan memiliki tugas dan peran masing-masing. Kedua, perbedaan tugas dan peran tersebut tidak membuat peran salah satunya lebih penting dari peran lainnya. Jika dua hal tersebut sudah terinternalisasi, maka praktik seksisme bisa kita lawan, baik di rumah, sekolah, lingkungan kerja, maupun di tengah-tengah masyarakat.

Peran laki-laki di sini juga sama pentingnya dengan perempuan dalam melawan seksisme. Karena bagaimanapun juga, perbaikan posisi dan situasi perempuan di masyarakat akan menguntungkan semua elemen masyarakat.

Lalu apakah hanya dengan menyadari peran masing-masing antara laki-laki dan perempuan, isu seksisme dapat terselesaikan? Tentu tidak. Kenapa demikian? Karena seksisme sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat awam, tentu sangat tidak mudah untuk terlepas dari hal tersebut.

Apalagi zaman semakin modern, dan tak bisa lepas dari pengaruh sosial media, yang terkadang mereka secara tidak sadar menggunakan sosial media untuk keperluan mengintimidasi karena pengaruh sosial media yang sangat kuat. Maka dari itu perlunya kesadaran dalam bermain sosial media dan memilah mana yang baik atau tidak. Kita bisa menggunakan sosial media untuk hal positif seperti mengkampanyekan isu seksisme itu seperti apa.

Dan perlunya edukasi sejak dini mengenai pemahaman isu seksisme, terutama dalam dunia pendidikan. Peran guru juga sangat diperlukan bukan hanya mengajar dalam bidang akademik saja, pengetahuan di luar akademik juga sangat diperlukan. Dan sudah seharusnya keluarga, orangtua, dan pemerintah memahami pengetahuan tentang bentuk-bentuk kebencian dan dengan adanya pendidikan melawan seksisme diharapkan tidak ada lagi yang dengan bangganya meneriakkan kalimat kebencian maupun bentuk perilaku yang mengintimidasi hanya karena dia perempuan atau laki-laki.

Kita harus bisa dan berani melawan seksisme, terutama pada diri sendiri. Sudahkah kita memastikan diri kita bukan bagian dari pelaku seksisme? Kita memang terkadang tidak menyadari apa yang kita lakukan terhadap orang lain, ada baiknya kita selalu bisa mengontrol diri. Berpikir dahulu sebelum berbicara dan berpikir dahulu sebelum bertindak. Mari bersama, bergandeng tangan dan merangkul untuk bisa melawan isu seksisme! [rf]

 

Tulisan ini adalah hasil karya dari peserta penerima beasiswa mentoring pada program Peaceful Digital Storytelling, pelatihan kampanye cerita baik dan positif bagi siswa SMA yang didukung oleh US Embassy dan Wahid Foundation.