Apa yang terlintas secara spontan dalam benak kita ketika mendengar kata “salafi”? Kalau bukan “Arab Saudi”, sebagai salah satu negara sponsor terbesarnya, biasanya kata “salafi” akan mengarahkan persepsi kita pada profil seseorang yang berjanggut tebal, memakai celana cingkrang, atau perempuan yang bercadar. Persepsi ini sangat wajar karena idenitas kultural yang visible seperti penampilan fisik atau pakaian memang aspek yang paling mudah dikenal dan diingat untuk merujuk pada satu kelompok tertentu.

Sayangnya, aspek-aspek identitas tersebut juga membuat “salafi” diasosiasikan dengan gerakan yang eksklusif, radikal, bahkan teror. Hampir semua pelaku aksi terorisme itu tampilan fisiknya memang seperti di atas; celana cingkrang, jenggot lebat, dua titik hitam di kening, para perempuannya bercadar, dan seterusnya. Bahwa para pelaku sikap ekslusif—bahkan hingga level kafir-mengkafirkan sesama Muslim—dan teror ini memiliki keterkaitan dengan atau setidaknya pernah belajar pada kelompok atau para guru “salafi” memang terkonfirmasi, tetapi apakah wajah “salafi” memang seutuhnya seperti itu? Tulisan ini merupakan refleksi singkat, atas sebuah artikel jurnal yang ditulis oleh Chris Chaplin berjudul “Salafi activism and the promotion of a modern Muslim identity: Evolving mediums of Da’wa amongst Yogyakarta university students.” (2018)

Menjadi Salaf, Menjadi Muslim Modern

Adalah Chris Chaplin, seorang peneliti asal Inggris yang cukup lama melakukan riset etnografis di Indonesia, yang telah memberikan tawaran alternatif untuk melihat dinamika gerakan “salafi” di Indonesia. Dia meneliti sebuah gerakan salafi di Yogyakarta dan mencoba memotretnya dengan kacamata identitas Muslim modern yang urban. Ada tiga unit analisa yang ia fokuskan untuk memotret aktivisme gerakan salafi di Yogyakarta ini, yaitu penggunaan teknologi informasi, mahasiswa sebagai target propaganda, dan pengembangan ekosistem ekonomi yang mengedepankan profesionalisme. Singkat kata, karena saya tidak ingin memberikan rangkuman dan ulasan atas artikel tersebut di tulisan ini, apa yang telah dilakukan oleh orang-orang “salafi” di Yogyakarta ini telah memberikan identitas Muslim modern. Atau, merujuk istilah Asef Bayat, sebagaimana yang juga dikutip Chris Chaplin, aktivisme salafi di Yogyakarta ini merupakan sebuah fenomena active piety, suatu kesholehan aktif yang mendorong seorang Muslim yang taat untuk terus mengajak orang lain agar memiliki ketaatan yang sama.

Maksudnya, barangkali, simbol-simbol modernitas seperti penggunaan teknologi informasi, dakwah melalui ruang-ruang virtual, dan mempropagandakan ajaran agama ke mahasiswa mampu dikombinasikan secara apik dengan keislaman khas kelompok “salafi” itu sendiri. Yang penting dari riset Chris Chaplin ini adalah kacamata baru bagaimana melihat gerakan salafi, yang memang terlanjur melulu dipotret sebagai sebuah ­state-sponsored activism, sebagaimana yang juga baru-baru ini diterbitkan bukunya The Call: Inside the Global Saudi Religious Project karya Krithika Varagur (2020) atau sebuah gerakan yang menjadi akar dari gerakan terorisme, sebagaimana yang sudah diteliti secara apik oleh Noorhaidi Hasan tentang kelompok paramiliter Muslim yang terlibat konflik di Ambon tahun 2001, Laskar Jihad: Islam, Militancy, and the Quest for Identity in Post-New Order Indonesia (2006).

Satu aspek menarik lainnya yang diungkap dalam riset etnografi Chris Chaplin ini adalah tentang dasar preferensi masyarakat yang berpindah-guru, dari yang awalnya belajar kepada guru agama di kampungnya, kepada ustadz-ustadz salafi ini. Dari informan yang Chris Chaplin tanya, ada jawaban seperti ini,”Yang membuat saya tertarik pada kelompok salafi adalah pengetahuannya. Tidak ada figur yang dianggap sebagai ideolog. Hal ini berbeda dengan situasi di keluarga saya; kyai berposisi sebagai ideolog.”

Maksudnya, mungkin, ada hubungan rigid yang hierarkis antara seorang kyai dan murid-muridnya; sesuatu yang tidak ditemukan oleh informasi tersebut di kalangan kelompok salafi. Bagi Chris Chaplin, “Salafism stressed a modern egalitarianism, where preachers were respected but approachable, and knowledge could be obtained by all through study and perseverance.” [Salafisme menekankan diri pada egalitarianisme modern. Seorang pendakwah dihormati, tapi bisa didekati. Pengetahuan bisa diperoleh semua orang melalui kegiatan belajar tekun], yang barangkali berbeda dengan sosok kyai yang dianggap Chris Chaplin defined Islam they knew at home. [Menjelaskan agama Islam yang sesuai pandangannya].

Dakwah Virtual

Baiklah, mari kita ‘uji’ dua hal ini; dakwah digital dan dakwah kampus—kedua-duanya pada titik tertentu tentu saja akan memiliki titik temu. Tentang “dakwah digital”, saya coba melihat ranking portal keislaman pada Juni 2020 silam. Pada peringkat pertama, ada nu.or.id, disusul oleh bicangsyariah.com dan islami.co.

Saya saya tahu, nu.or.id dan islami.co dikelola oleh kelompok Nahdhiyyin. Nah, di peringkat ke-4 dan ke-5, ada portal muslim.or.id dan rumaysho.com. Yang saya ketahui, kedua portal ini dikelola oleh kelompok “salafi”. Chris Chaplin sendiri menyebut portal muslim.or.id sebagai salah satu media informasi bagi anak muda yang dikelola oleh Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsary (YPIA) di Yogyakarta.

Baca Juga, Membaca Disertasi Oki Setiana Dewi: Mengapa Dakwah Salafi dan Jamaah Tabligh Lebih Diterima di Kalangan Selebritis?

Sementara itu, portal rumaysho.com setahu saya dikelola oleh seorang ustadd bernama, Muhammad Abduh Tuasikal, pria kelahiran Ambon tahun 1984. Dari cerita kolega kerja saya yang alumni Universitas Islam Madinah, Muhammad Abduh Tuasikal merupakan alumni sarjana teknik di Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada yang mempelajari agama di Masjid Mardhiyyah yang berada di lingkungan kampus Universitas Gajah Mada. Beliau lalu melanjutkan studi di Arab Saudi di bidang teknik kimia di Jami’ah Malik Su’ud (2010), tetapi sangat rajin nyorog kepada para ulama di Arab Saudi.

Saat ini, beliau memimpin sebuah Pesantren Darush Sholihin di Gunung Kidul, Yogyakarta. Rumaysho.com sendiri diambil dari nama anak pertamanya. Beliau memang aktif menulis di beberapa portal yang memang khusus dibuat dan dikelola untuk menyebarkan informasi keagamaan, baik fatwa fikih, akhlak, tafsir, dan seterusnya. Nah, dalam kasus sosok Muhammad Abduh Tuasikal ini, kita bisa melihat keberhasilan gerakan dakwah kampus kelompok salafi yang telah membuahkan kader yang meski sendirian, tetapi influential di ruang virtual.

Ada juga cerita menarik mengenai penetrasi gerakan dakwah salafi ini. Waktu itu, tahun 2017, saya ada tugas kerja ke kota Ternate, Maluku Utara. Karena tugas saya saat itu membukan sebuah radio, saya cukup menjalin komunikasi intensif dengan salah satu komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Maluku Utara. Nah, sang komisioner bercerita bahwa salah satu anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Komando Daerah Militer XVI/Pattimura pernah memperingatkan dirinya agar izin siar televisi digital Rodja TV, salah satu media dakwah kelompok salafi yang juga tidak kalah masifnya dan berlokasi di Cileungsi, Bogor.

Tanya kenapa?

Karena anak anggota TNI belajar ngaji­-nya via Rodja TV tersebut. Entah gejala apa ini. Apakah ada ‘kekosongan peran’ yang ditinggalkan oleh kelompok-kelompok dakwah Islam arus-utama, atau memang ada ‘lahan baru’ yang secara cepat diisi secara konsisten oleh kelompok salaf ini. Tapi yang jelas, saya melihat ‘orkestra’ gerakan dakwah yang dimainkan oleh kelompok salafi telah memberikan warna baru bari keragaman gerakan Islam di Indonesia. Wallaahua’lam bishshawwaab.