Saya benar-benar terganggung dengan ceramah yang dilakukan oleh Khalid Basalamah dalam akun youtubenya. Dia berceramah tentang 70 kekeliruan wanita. Ketika Khalid Basalamah berceramah, pada poin ke 23, dalam ceramah tersebut saya melihat Khalid Basalamah sedang membuat dan memupuk hal-hal yang baik bagi perempuan serta menggiring perempuan untuk berada dalam ruang-ruang domestik.

Dalam beberapa ceramahnya Khalid Basalamah berceramah perempuan didefinisikan perempuan secara material dengan atributnya sebagai makhluk yang keibuan, perawat dan lemah lembut. Dengan atribut ini, Khalid sedang  membuat image the good dan the bad women. Tentu saja perspektif sudah dipakai oleh banyak orang untuk menindas perempuan dalam waktu yang cukup panjang. Siapa saja mereka?

Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas dan Francis Bacon berargumentasi perempuan sangat penting berada di dunia domestic dan berfungsi sebagai makhluk bereproduksi daripada mereka berkecimpung di dunia publik  sebagai makhluk yang produktif. Plato beralasan jika perempuan tidak memiliki seni perang sehingga lebih baik perempuan mengurusi anak.

Alasan Francis Bacon lebih sadis dari Plato, Bacon memberikan alasan jika perempuan memiliki ciri-ciii buruk seperti korupsi seingga sangat tidak layak berada dan menjadi pejabat publik. Selain itu Rene Descartes menilai jika perempian bukan makhluk yang rasional sehingga tidak mungkin ditempatkan di ruang publik. Dari sini kita melihat jika sudah dalam waktu yang cukup lama.

Dari Apa yang dilakukan oleh para filsuf dan Khalid Basalamah kita melihat bahwa pendefinisian perempuan lewat tubuhnya melegitimasi perannya seperti pendefinisian biologis. Atas pendefinisian tersebut, perempuan ditetapkan sebagai mahkluk yang tidak berdaya. Isu-isu ini membuat perempuan harus dibatasi dan dikekang di ruang-ruang publik. Hal ini dimainkan nampaknya untuk stabilitas moral masyarakat, persisnya para laki-laki. Padahal ruang publik, milik perempuan dan laki-laki.

Dalam Kitab Al-Thabaqat-Kubra adalah memuat 4.250 entri tokoh-tokoh awal Islam hingga abad ketiga hijriah. Dari jumlah tersebut, ada 629 tokoh perempuan yang ditulis. Jumlah ini cukup banyak mengingat sangat sulit dijumpai tokoh-tokoh perempuan dijumpai.

Dalam kitab lainnya, Kitab Al-Dhaw’ al-Lami’ fi A’yan al-Qarn at-Tasi’ ada 11.691 tokoh yang ditulis dan 1.075 orang tokoh perempuan dimuat dalam kitab tersebut. dari 1.075 ada 411 ulama perempuan yang berpendidikan agama yang cukup tinggi.

Dari gambaran ini, menandakan jika aktivitas perempuan di ruang publik, baik urusan agama, pengetahuan, ekonomi, sosial maupun politik tidak mungkin ditinggalkan begitu saja karena teks agama yang berbicara mengenai perempuan tentang aurat, fitnah dan khalwat. Pengalaman hidup perempuan harusnya menjadi bagian integral dari kehidupan manusia yang dijadikan rujukan dalam memahami kehidupan manusia tersebut secara utuh.

Integrasi pengalaman dalam konsepsi pengetahuan keislaman adalah bagian dari prinsip hizsh al-nafs dalam maqashid al-syari’ah. Artinya kehidupan perempuan akan terjaga dan terlindungi jika pengalaman-pengalaman hidup mereka menjadi bagian integral dalam rumusan pengetahuan sosial maupun keagamaan. Kembali pada bahasan ceramah Khalid Basalamah, baiknya mengingat kembali jika Al-Qur’an menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama menjadi subjek kehidupan yang seutuhnya.

Laki-laki dan perempuan sama-sama hanya menghamba kepada Allah dan mengemban amanah khalifahan di muka bumi untuk mewujudkan kemaslahatan seluas-luasnya. Mengutip pernyataan Prof. Dr Komaruddin Hidayat, M.A tentang perempuan yang diidealkan dalam Islam. Di antaranya

  1. Mempunyai kemandirian politik, seperti Ratu Balqis yang mempunyai kerajaan super power
  2. Memiliki kemandirian ekonomi, di mana Nabi Musa menyaksikan seorang perempuan yang mengelola peternekan
  3. Memiliki kemandirian dalam menentukan pilihan-pilihan pribadi, perempuan dibenarkan untuk menyuarakan kebenaran dan melakukan gerakan oposisi terhadap berbagai kebobrokan. Bahkan, dalam Al-Qur’an menyerukan perang terhadap suatu negeri yang menindas perempuan

Hakikatnya, Islam hadir di masyarakat islam Arab mengubah cara pandang secara revolusioner. Sebelumnya, perempuan menjadi harta benda laki-laki, Islam datang menegaskan jika perempuan adalah manusia. Begitu juga peran perempuan, dahulu dianggap pelayan laki-laki, lalu Islam mengubahnya.

Perempuan dan laki-laki adalah hamba Allah S.W.T dan sama-sama pelayan untuk kemaslahatan makhluk Allah di muka bumi. Paling tidak, itu yang saya percayai, Ustadz, maafkan saya.