Siapakah orang yang dicintai Allah? Apakah hanya orang-orang yang beribadah sehari-semalam suntuk?

Al-Quran menyebut cinta, hubb dan derivasinya 83 kali, sedangkan lawan katanya, benci, bugd-bagda’ 5 kali. Kata yang berdekatan dengan bugd ialah sukht, disebut 4 kali; lawan katanya rida terulang 73 kali. Hubb dan mahabbah seakar dengan habb yang artinya biji atau inti. Hubb disebut habbat al-qalb, biji atau inti hati, karena keserupaan aktivitasnya. Jika dikatakan, Aku mencintai Fulan, berarti aku menemukan inti hatinya, sama dengan aku jadikan hatiku sebagai sasaran dan tujuan cintanya.

Syahdan, Cinta adalah kehidupan. Jika seseorang tidak mendapatkannya, hidupnya sudah dipastikan penuh dengan kegelisahan. Sekurang-kurangnya, penulis membagi cinta manusia kedalam tiga bentuk macam. Pertama, cinta untuk kenikmatan, seperti cinta pria kepada wanita. Kedua, cinta untuk manfaat, seperti kecintaan terhadap sesuatu untuk memperoleh manfaatnya.

Ketiga, cinta untuk keutamaan, seperti kecintaan kepada ahli ilmu. Orang mencintai orang-orang berilmu. Makin banyak ilmu seseorang, makin disukailah ia. Manusia mencintai orang saleh, pertama, karena ilmunya. Ia memiliki ilmu lebih banyak daripada orang lain; mengenal Allah, kitab-Nya dan Rasul-Nya. Kedua, karena kemampuannya. Ia mampu memperbaiki diri dan orang lain. Ketiga, karena ia bersih dari cacat dan kejelekan. Cinta membangkitkan kepribadian dan memunculkan kekuatan-kekuatan yang ada di dalamnya.

Cinta Allah kepada manusia tidak terpisah dari cinta manusia kepada-Nya. Al-Quran  surah Al-Maidah [5]: 54, sudah menegaskannya. Dalam tinjauan tasawuf, kecintaan kepada Allah adalah puncak perjalanan manusia, puncak tujuan seluruh maqam. Setelah mahabbah (cinta), tak ada lagi maqam lain kecuali buah mahabbah itu, seperti syauq (kerinduan), uns (kemesraan), rida, dan tidak ada maqam sebelum mahabbah kecuali pengantar-pengantar kepadanya, seperti taubat, sabar, zuhud, dan lainnya.

Guru-guru sufi mengajarkan pada murid-murid mereka bahwa kewajiban mereka adalah memenuhi kehendak Allah, bukan karena sebuah rasa-kewajiban, tetapi lebih karena cinta, sebab adakah sesuatu yang lebih besar daripada cinta yang tak bersyarat yang manusia persembahkan kepada Tuhannya? Seorang pecinta Tuhan tahu bahwa kesusahan adalah ‘tangan’ Tuhan Yang Tercinta, yang dia rasakan, dia percayai; bahwa apa pun yang menimpanya untuk kebaikannya semata, karena Tuhan mengetahui apa yang baik bagi pertumbuhan jiwa dan penyucian roh.

Meski demikian, kecintaan Allah kepada hamba-Nya berarti Allah memberinya kenikmatan dan pahala. Siapa saja yang dicintai Allah, maka Dia akan memberikan rezeki, kecintaan dan kedudukan di hadirat-Nya. Adapun cinta hamba kepada Allah berarti ia mencari dan meminta ridha-Nya. Jika Allah tidak mencintai hamba-Nya, berarti Ia menahan kenikmatan dan pahala yang dijanjikan kepada hamba yang dicintai-Nya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT berfirman, “Barang siapa memusuhi salah seorang wali-Ku, maka sungguh Aku telah memaklumkan kepadanya peperangan. Dan tidak akan dapat hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku selain dengan apa yang telah Aku fardhukan atas dirinya. Demikian pula hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan sunat-sunat sehingga Aku mencintainya. Maka apabila aku telah mencintainya, Akulah yang menjadi telinganya yang ia mendengar dengannya, Aku menjadi tangannya yang dengannya ia memukul, dan Akulah yang menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Seterusnya, kalau ia memohon kepada-Ku, niscaya aku memberinya, dan bila ia berlindung kepada-Ku, niscaya Aku melindunginya.” (HR. al-Bukhari).

Nabi SAW bersabda, “Apabila Allah SWT telah mencintai seorang hamba, maka malaikat Jibril akan berseru, bahwa sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka aku pun mencintainya, sehingga Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril berseru kepada paa penghuni langit, “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia, sehingga ia dicintai oleh para penghuni langit. Kemudian diletakkan untuknya kemakmuran di bumi.” (HR al-Bukhari).

Hadis-hadis di atas sejalan dengan firman Allah dalam Al-Quran: Ingatlah Aku, maka Aku akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku (QS.Al-Baqarah [2]:152).

Alkisah,  suatu waktu Sahabat Anas dan Rasulullah SAW keluar dari masjid. Tiba-tiba mereka berjumpa dengan seseorang dan bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah kiamat?” Rasulullah SAW menjawab dengan balik bertanya, “Apakah kamu sudah menyiapkan bekal menghadapi hari kiamat?” Ia menjawab, “Aku belum mempersiapkannya dengan melakukan banyak shalat, juga berderma dan tidak juga dengan banyak puasa. Akan tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Maka beliau menjawab, “Kelak kamu akan bersama orang yang kamu cintai.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Lalu siapa orang yang dicintai Allah swt?

  1. Orang yang berbuat baik
  2. Orang yang bertaubat dan membersihkan diri
  3. Orang yang bertakwa
  4. Orang yang bertawakkal
  5. Orang yang adil

Orang yang Berbuat Baik

Allah SWT berfirman dalam al-Quran: Nafkahkanlah hartamu di jalan Allah dan jangan jerumuskan diri ke dalam kehancuran dengan tangan sendiri. Berbuatlah kebaikan. Sungguh Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan”. (QS. al-Baqarah [2]:195).

Berlombalah mendapatkan ampunan Tuhanmu, dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang bertakwa. Yaitu orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang atau dalam kesukaran; dapat menahan kemarahan dan memberi maaf kepada orang. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Dan mereka yang bila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri segera mengingat Allah dan memohon ampunan atas segala dosanya; dan siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah? – dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa demikian padahal mereka tahu. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, tempat mereka tinggal selamanya dan itulah pahala terbaik bagi orang yang beramal. (QS. Ali Imran [3]:133-136).

Selain dua ayat di atas, perintah berbuat baik juga dimuat dalam Ali Imran [3]:146-148, QS.Al-Maidah [5]:13, dan QS. al-Maidah [5]:92- 93.

Pada ayat pertama (QS. al-Baqarah [2]:195) dan kedua (QS. Ali Imran [3]:133-136) di atas, yang dimaksud kebaikan ialah menafkahkan harta di jalan Allah, pada waktu lapang atau dalam kesukaran, menahan kemarahan dan memberi maaf kepada orang, memohon ampunan atas segala dosa serta tidak meneruskan perbuatan dosa demikian padahal mereka tahu. Seseorang yang suka-rela bersedekah termasuk orang yang mencintai Allah, dan Allah sangat mencintai hamba-Nya yang dermawan, murah hati dan ringan tangan. Allah melipatgandakan pahala dan melimpahkan ketenteraman.

Sementara, pada ayat ketiga (Ali Imran [3]:146-148), kebaikan meliputi ‘berjihad’ di jalan Allah, tidak lemah ditimpa bencana di jalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak menyerah; tabah dan senantiasa memohon ampun atas dosa dan tindakan berlebihan. Pada ayat keempat (QS.Al-Maidah [5]:13), memaafkan kesalahan orang. Pada ayat kelima (QS. al-Maidah [5]:92- 93), kebaikan itu meliputi kewajiban kepada Allah dan diri sendiri dengan menjaga diri dan menjalankan kewajiban kepada sesama.

Orang yang bertaubat dan membersihkan diri

Tobat ialah sadar dan menyesal akan dosanya (perbuatan salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatannya; kembali kepada agama (jalan, hal) yang benar. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: Sesungguhnya Allah mencintai mereka yang yang bertobat dan mencintai mereka yang suci dan bersih”. (QS. al-Baqarah [2]:222).

“Sungguh, suatu masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama, lebih layak untuk kamu bershalat di dalamnya. Di situ ada orang yang ingin membersihkan diri, dan Allah mencintai orang yang membersihkan diri”. (QS. al-Taubah [9]:108).

Tobat ialah menyesali dosa-dosa yang dilakukan pada masa lalu, melepaskannya kini, dan bertekad tidak mengulanginya pada masa yang akan datang. Syarat tobat dengan demikian ada tiga: menyesali, melepaskan diri dari dosa dan bertekad tidak mengulangi lagi. Tobat tidak terwujud tanpa penyesalan.

Tobat melepaskan pakaian yang bisa menjauhkan diri dari Allah dan membentangkan permadani yang mendekatkan kepada Allah. Tobat mengganti gerakan-gerakan yang tercela dengan gerakan-gerakan yang terpuji. Dengan ilmu yang dijiwai iman, bahwa dosa adalah suatu hal yang merusakkan, dan pengertian itu menguatkan pembenaran dan menghilangkan keragu-raguan, maka timbullah cahaya iman. Jika api penyesalan telah menyala, maka ia bersedih, sebab terhijab dari yang dicintainya dan berada di ambang kebinasaan. Maka menyalalah api cinta di hati, dan semakin berkobar-kobar dengan hasrat untuk menggapai cinta Ilahi.

Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang bertobat adalah kekasih Allah, dan orang yang bertobat itu seperti orang yang tidak mempunyai dosa.”

Rasulullah SAW juga bersabda, “Allah lebih gembira dengan tobat seorang hamba mukmin daripada kegembiraan seorang lelaki yang turun dari tunggangannya di suatu tempat lalu tertidur. Ketika bangun, binatang tunggangan beserta makanan dan minumannya tidak ada. Lalu ia mencarinya di bawah terik matahari, hingga ia berkata, “Aku akan kembali ke tempatku semula lalu tidur sampai mati.” Ia pun tidur. Ketika terbangun, tiba-tiba tunggangannya beserta perbekalannya datang kembali. Maka kegembiraan Allah dengan tobat seorang mukmin lebih besar daripada kegembiraan orang itu dengan kembalinya binatang tunggangannya.”

Orang yang Bertakwa Akan Dicintai Allah

Takwa ialah terpeliharanya sifat diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya; keinsafan yang diikuti kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Allah SWT berfirman: “Ada di antara Ahli Kitab itu yang bila kauberi kepercayaan dengan setimbunan emas, ia mengembalikannya kepadamu; tetapi ada juga, yang bila kauberi kepercayaan dengan satu dinar saja, tidak lagi dikembalikan kepadamu kecuali bila berulang-ulang engkau memintanya. Yang demikian itu karena mereka berkata, “tidak ada kewajiban bagi kami tetap setia kepada orang yang bodoh”. Mereka berkata dusta terhadap Allah padahal mereka mengetahui. Barang siapa menepati janji dan bertakwa, sungguh Allah mencintai orang yang bertakwa”. (Ali Imran [3]:75-76).

Takwa memperbaiki hubungan antara hamba dengan Tuhannya, sedangkan akhlak yang baik memperbaiki hubungan hamba dengan sesama. Takwa mendorong manusia mencintai-Nya, sementara akhlak yang baik mendorong manusia untuk mencintai sesama. Takwa yang hakiki adalah takwa hati. Allah SWT berfirman: Demikianlah keadaannya; barang siapa memuliakan lambang-lambang Allah, dalam mengadakan kurban hewan, maka penghormatan yang demikian pastilah dari hati yang penuh takwa. (QS. al-Hajj [22]:32). Lihat juga surat al-Hajj [22]:37.

Orang yang Bertawakkal

Tawakal artinya berserah kepada Allah kehendak Allah; percaya dengan sepenuh hati kepada Allah. Tawakal ialah pasrah kepada Allah dalam segala urusan. Memohon pertolongan-Nya di waktu senang dan susah, dan yakin bahwa Allah adalah Maha Pengatur dan Maha Kuasa untuk melakukan apa saja. Hanya Allah sajalah yang memberi rezeki atau mencabutnya, memberi kemenangan atau kekalahan, memberi kemajuan atau kemunduran.

“Katakanlah, tidak ada sesuatu yang akan menimpa kami, kecuali yang sudah ditentukan Allah kepada kami; Dialah Pelindung kami,” dan kepada Allah orang beriman hendaknya bertwakal”. (QS. al-Taubah [9]:51). Lihat juga QS. Ali Imran [3]:159.

Orang yang Adil

Adil ialah tidak berat sebelah; tidak memihak; berpihak kepada yang benar; berpegang pada kebenaran; tidak sewenang-wenang. Kata-kata yang berdekatan dengan adl dalam Al-Quran antara lain qist, mizan, sidq, wafa, haq.

Kata adil memiliki beberapa makna. Pertama, adil berarti sama, yakni persamaan dalam hak. Hal ini seperti tersebut dalam Al-Quran: Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang layak menerimanya. Apabila kamu mengadili di antara manusia, bertindaklah dengan adil. Sungguh Allah mengajar kamu dengan sebaik-baiknya, karena Allah Maha Mendengar, Maha Melihat”. (QS. al-Nisa [4]:58).

Kedua, adil berarti seimbang. Hal ini seperti disebut Al-Quran: Hai manusia! Apa yang memperdayakan kau dari Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan engkau, membentuk kau dalam ukuran berbanding, dan membuat ukuran tubuhmu berimbang. Dalam bentuk rupa apa pun Ia kehendaki, Ia merakitmu”. (QS. al-Infitar [82]:6-8).

Ketiga, adil ialah perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya. Lawannya adalah kezaliman. Adil dalam arti ini sama dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melahirkan keadilan sosial. Keempat, adil berarti memelihara kewajaran atas berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk itu.

Selain beberapa ayat di atas, anjuran untuk bersikap adil juga dimuat dalam surat Q.S Ali Imran [3]:18, Q.S Fussilat [41]:46, Q.S Al-Maidah/5:42, Q.S al-Hujurat [49]:7-9.

(AN)