Dunia pesantren tidak hanya melahirkan para tokoh laki-laki saja, tetapi juga banyak melahirkan tokoh perempuan yang mempunyai peran penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah Nyai Solihah Wahid, sosok muslimah asal pesantren yang memiliki berbagai keahlian.

Beliau lahir di Jombang pada 11 Oktober 1922 M, dari seorang bapak yang bernama KH. Bisri Syansuri dan ibu Nyai Hj. Nur Chadijah. Nama kecilnya Munawaroh. Ia besar di lingkungan pesantren dan Nahdliyin, karena orang tuanya adalah tokoh besar Nahdlatul Ulama.

Sejak kecil, ia belajar dasar-dasar agama di lembaga pendidikan milik orang tuanya, Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang. Di pesantren tersebut, ia mempelajari Ilmu Al-Qur’an, hadis, tajwid, nahwu, shorof, fikih, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, ia juga menimba ilmu langsung kepada ayah dan ibunya, baik untuk mengulang hasil belajarnya maupun menambah pelajaran. Kedua orang tua Nyai Sholihah adalah sosok penyayang, kehidupannya selalu berada di bawah pengawasan kedua orang tuanya.

Sebelum menikah dengan KH. Wahid Hasyim, Nyai Munawwaroh menikah dengan Abdurrachim yaitu putra KH. Cholil dari Singosari. Akan tetapi, pernikahan tersebut hanya berumur sebulan karena sang suami meninggal dunia bahkan belum sempat untuk menikmati rasanya sebuah pernikahan. Dua tahun kemudian, tepatnya 10 Syawwal 1356 H/1936 M beliau menikah dengan Abdul Wahid Hasyim yang merupakan putra sulung K.H Hasyim Asy’ari.

Pada saat inilah kehidupan baru Nyai Munawwaroh dimulai dan kemudian lebih dikenal dengan nama Ibu Solihah Wahid Hasyim. Ketika menjadi istri KH. Wahid Hasyim, Nyai Solihah mampu beradaptasi dengan cepat terhadap kegemaran suaminya yaitu membaca buku. Sehingga dalam waktu yang cepat, beliau juga mampu menulis latin dan membaca majalah koleksi suaminya.

Jiwa perjuangannya mulai terlihat ketika beliau pindah dari Ndalem Kesepuhan ke Ndalem Kulon komplek Tebuireng, di mana beliau terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan Muslimat NU yang saat itu masih bernama NOM. Selain itu, dalam perjuangan kemerdekaan Nyai Solihah juga ikut membantu mendirikan dapur umum di dekat Pabrik Gula Cukir dan menyelamatkan dokumen rahasia ketika suaminya dikejar Belanda.

Kedatangan Jepang mengambil kekuasaan dari Belanda membuat Nyai Solihah tidak bisa melepaskan diri dari perjuangan. Meskipun perempuan, beliau tetap ikut membantu perjuangan. Beliau ikut kegiatan yang diterapkan Jepang, yakni Fujinkai. Yang isi kegiatannya bernyanyi, belajar bahasa Jepang dan membuat perban untuk P3K.

Salah satu sisi penting dari kehadiran Nyai Solihah dalam Fujinkai adalah mengganti baju Fujinkai, dengan dipenuhi badge kemuslimatan. Saat itu kegiatan-kegiatannya diisi dengan pengajian dan kursus-kursus kemandirian perempuan.

Ketika K.H Wahid Hasyim pindah ke Jakarta tahun 1944 M untuk terlibat dalam perjuangan kemerdekaan, beliau juga ikut ke Jakarta. Setelah itu beliau kembali lagi ke Tebuireng, karena K.H Wahid Hasyim disuruh untuk mengurus pesantren Tebuireng.

Pada tahun 1950 M, ketika K.H Wahid Hasyim menjadi menteri agama, beliau sekeluarga pindah ke Jakarta. Namun, kebersamaannya dengan K.H Wahid Hasyim hanya berumur 15 tahun, karena suaminya meninggal akibat kecelakaan mobil di Jawa Barat yaitu pada tahun 1953 M.

Sejak ditinggal suaminya, Nyai Solihah Wahid merawat putra-putrinya sendirian, yaitu yaitu Abdurrahman Wahid, Asiyah Hamid Baidlowi, Solahudin Wahid, Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid dan Hasyim Wahid.

Pesan suaminya agar anak-anaknya menjadi manusia yang berguna untuk negara di masa akan datang, membuatnya tetap tinggal di Jakarta, walaupun keluarga besar di Jawa Timur memintanya kembali ke Jombang. Nyai Solihah memantapkan diri untuk tinggal di Jakarta, yang penuh dengan resiko karena kondisi sosial politik dan ekonomi Indonesia tidak stabil.

Sebagaimana dijelaskan dalam buku Ulama Perempuan Indonesia, pada awalnya K.H Bisri Syansuri memang menghendaki –melalui musyawarah keluarga- supaya Nyai Solihah kembali ke Jombang, sedangkan putra-putrinya akan diasuh saudara-saudara.

Namun Nyai Solihah tidak bersedia dan memilih tinggal di Jakarta. Ia kemudian memulai kehidupan secara mandiri, mengambil peran menghidupi, membimbing, dan mendidik putra-putrinya.

Agar bisa bertahan hidup, beliau berdagang beras kepada wali kota Jakarta yang saat itu dijabat Syamsurijal, membuka usaha jual beli mobil bekas serta menjadi subrevelansir bahan bangunan proyek Pelabuhan Tanjung Priok.

Beliau juga mendatangkan pasir dan bambu untuk dijual kepada PT Sitra dari Prancis. Dengan kerja kerasnya, beliau mampu merampungkan studi putra-putrinya yang ada di ITB, UI, Pesantren Tegal Rejo, Al-Azhar Mesir dan lain-lain. Walaupun putri kyai besar Indonesia, beliau tidak malu untuk melakukan berbagai hal yang mungkin tidak selayaknya dilakukan oleh seorang yang mempunyai strata sosial tinggi.

Karirnya sebagai sosok organisatoris dimulai dari Muslimat NU tingkat Gambir (1950 M), Matraman (1954 M), ketua Muslimat NU DKI Jakarta (1956 M) dan Ketua Muslimat NU (1959 M). Beliau juga pernah terlibat politik dengan menjadi legislator DKI Jakarta (1957 M), DPR Gotong Royong/MPRS (1960 M), DPR/MPR (1971 M mewakili NU, 1978-1987 M mewakili PPP).

Sedangkan dalam bidang sosial, beliau aktif di Yayasan Dana Bantuan sejak 1958 M sampai akhir hayat. Bahkan beliau juga mendirikan beberapa lembaga seperti Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional, Panti Harapan Remaja, Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU, Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU, Pengajian al-Islah, dan lain sebagainya.

Rumah beliau juga sering dijadikan salah satu basis politik NU, tempat digodognya keputusan-keputusan penting NU di perpolitikan oleh dua tokoh sentral; KH. Bisri Syansuri dan KH. A. Wahab Chasbullah. Termasuk pembahasan terkait sikap NU dengan Dekrit Presiden, Kabinet Gotong Royong, hingga keputusan cepat Muslimat dan NU beberapa waktu usai G-30-S/PKI. Bahkan, dalam beberapa keputusan penting di PBNU, ketika para kiai “gagal” melunakkan Gus Dur, mereka memilih jalan menghadap Nyai Solihah agar bisa melunakkan putranya.

Nyai Solihah merupakan pribadi yang terbuka dan mudah bergaul dengan siapa saja, sangat rajin melakukan silaturrahim kepada banyak pihak. Beliau induk ayam bagi para pimpinan NU pada masanya, tidak pernah lepas kontak dengan para pemimpin masyarakat lokal dan nasional, aktif berdakwah dan berorganisasi namun tugasnya sebagai ibu dan istri tidak pernah ditinggalkan.

Nyai Solihah adalah bukti bahwa perempuan pesantren bukan pribadi yang apatis dan hanya bisa menjadi konco wingking (teman pelengkap) saja, apalagi dalam dunia politik. Apa yang dilakukan oleh Nyai Solihah adalah bukti perempuan bisa menjadi pasangan bagi kaum laki-laki, bukan hanya di dalam rumah tapi juga di luar rumah tanpa meninggalkan tugasnya sebagai seorang istri dan seorang ibu. (AN)

Wallahu a’lam.