Kita tidak dapat memilih, ibadah atau perbuatan baik mana yang bisa mengantarkan kita ke surga-Nya. Bahkan dalam kisah, ada ulama yang masuk surga karena menolong kucing. Seorang guru pernah memberikan dawuh, bahwa kita tidak pernah tahu, kebaikan mana yang diterima oleh Allah, oleh karena itu lakukan setiap kebaikan tersebut dengan ikhlas. Seorang ulama juga pernah berkata, “Jika kau temui jarum atau batu di jalan ambil lah, barang kali hal tersebut dapat melancarkanmu ke surga.”

Alkisah, ada seorang laki-laki bermimpi melihat Syekh Abu Bakr Asy-Syibli yang sudah wafat terlibat dialog dengan Tuhan.

“Tahu kah kamu apa yang membuatmu diampuni dosa-dosamu?” tanya Allah kepada ruh Syekh Abu Bakr Asy-Syibli.

Amal salehku,” jawab murid Junaid al-Baghdadi ini.

“Bukan,” kata Tuhan dengan tegas.

“Apakah ketulusanku dalam beribadah?” tanya Syekh Abu Bakr Asy-Syibli.

“Bukan juga,” Tuhan kembali berkata kepada Syekh Abu Bakr Asy-Syibli.

“Hajiku?”

“Puasaku?”

“Sholatku?”

“Bukan juga,” kata Tuhan singkat.

Syekh Abu Bakr Asy-Syibli masih belum menyerah menjawab, “Perjalananku kepada orang-orang alim dan saleh untuk menimbah ilmu?”

Tuhan kembali menjawab, “Bukan.”

Syekh Abu Bakr Asy-Syibli tampak lelah sembari menjawab, “Lantas apa, ya ilahi?”

Kemudian Tuhan menjelaskan bahwa ia mendapat karunia serta rahmat-Nya berkat peristiwa pertemuan Syekh Abu Bakr Asy-Syibli dengan seekor kucing di jalan.

Bagaimana bisa pertemuan dengan seekor kucing dapat mengantarkan seorang ulama sufi masuk surga?

Suatu hari, hujan lebat mengguyur kota Baghdad. Syekh Abu Bakr Asy-Syibli tengah berjalan kaki hendak pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan tersebut, bertemulah ia dengan seekor kucing kecil yang tampak meringkuk kedinginan di sebuah sudut bangunan tua.

Baca juga: Dakwah Abu Bakar yang Santun dan Lembut

Bulu kucing tampak compang-camping, kondisinya begitu lemas dan tampak kelaparan. Ia menggigil hebat setelah badannya terguyur hujan lebat. Ia menepi ke sudut bangunan untuk mencari kehangatan.

Melihat kondisi kucing yang seperti itu, Syekh Abu Bakr Asy-Syibli menjadi iba. Ia datangi kucing tersebut.

“Kasihan benar kucing kecil ini,” kata Syekh Abu Bakr Asy-Syibli.

“Udara sedang tidak bersahabat, mengapa kau tidak tidur saja di rumah tuanmu? Apakah ia telah menelantarkanmu? Kalau kau kucing kecil yang terlantar, aku akan membawamu ke rumahku. Aku ingin kau tinggal di rumahku. Di sana ada banyak makanan juga kehangatan. Engkau akan merasa sehat dan lebih baik.”

Syekh Abu Bakr Asy-Syibli mengambil kucing kecil tersebut dan menghangatkannya di dalam jubahnya. Ia bawa kucing tersebut pulang menuju rumah bersamanya.

Setibanya di rumah, Syekh Abu Bakr Asy-Syibli menyiapkan makanan untuk kucing tersebut. Sepertinya ia sudah tak makan berhari-hari, melihat hidangan yang diberikan oleh Syekh Abu Bakr Asy-Syibli, kucing tersebut langsung menyantapnya dengan lahap.

Selain memberi makan, Syekh Abu Bakr Asy-Syibli juga mengeringkan tubuhnya yang basah terkena hujan kemudian kucing tersebut dihangatkan dengan diselimuti oleh sehelai kain. Setelah merasa hangat dan kenyang, tidurlah kucing tersebut dengan pulas.

“Karena kasih sayang serta kebaikanmu terhadap kucing tersebut, Aku memberikan kepadamu rahmatku.” Kata Tuhan kepada Syekh Abu Bakr Asy-Syibli.

Baca juga: Dijilati Kucing, Apakah Najis?

Demikian lah para ulama dan guru-guru kita selalu mengingatkan bahwa tiket ke surga tidak hanya diperoleh melalui jalan ibadah saja, tetapi juga melalui kebaikan-kebaikan kepada sesama makhluknya. Abu Bakar as-Syibli saja bisa masuk surga karena menolong kucing.

Barang kali, segala ikhtiyar kita menjaga keseimbangan alam seperti, membuang sampah ke tempatnya, menjaga kelestarian hutan, menjaga ekosistem hewan dan tumbuhan, serta kebaikan-kebaikan kecil lainnya justru menjadi hal yang mempermudah kita memperoleh rahmat serta karunia Allah. (AN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here