Al-Quran memiliki bahasa yang mempesona, diksinya begitu indah, pesan-pesannya begitu agung, meyakinkan kita bahwa ayat-ayat suci di dalamnya tak mungkin dibuat oleh selain Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Kelebihan-kelebihan Al-Quran ini lah yang disebut sebagai mukjizat oleh Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah.

Selain sebagai mukjizat, Al-Quran juga berfungsi sebagai hudan (petunjuk) bagi seluruh umat manusia. Namun tidak semua umat manusia mampu mengenali fungsi ini dalam setiap ayatnya. Dalam Tafsir al-Misbah dijelaskan bahwa hanya orang bertakwa yang mampu mengenali fungsi hudan yang ada dalam Al-Quran dengan baik. Hal ini dijelaskan langsung dalam surat Al-Baqarah ayat 1-2:

الۤمّۤ ۚ – ١ ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ – ٢

Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

Oleh karena itu, Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah mengkritik perilaku beberapa orang yang hanya mengagumi Al-Quran saat dilantunkan saja. Padahal, Al-Quran diturunkan bukan hanya untuk dibaca atau diperdengarkan.

“Masyarakat Islam dewasa ini pun mengagumi Al-Quran. Tetapi sebagian kita hanya berhenti dalam pesona bacaan ketika dilantunkan, seakan-akan kitab suci ini hanya diturunkan untuk dibaca,” tulisnya dalam Tafsir al-Misbah.

Dalam Al-Misbah disebutkan, Al-Quran bukan hanya kitab bacaan, walaupun ayat pertama yang diturunkan adalah perintah membaca. Walaupun perintah membaca itu diulangi sampai dua dan tiga kali, namun tidak semuanya berarti perintah membaca, melainkan juga bermakna “telitilah” dan “dalamilah”. Artinya perintah Al-Quran tidak hanya sebatas membaca, melainkan juga harus diteliti dan difahami.

Al-Quran menyebut orang-orang yang hanya membaca Al-Quran sebagaimana di atas dengan sebutan ummiyun (Al-Baqarah: 78), yang oleh Ibnu Abbas dimaknai sebagai orang yang tidak mengerti pesan-pesan Al-Quran walaupun mereka menghafalnya. Mereka hanya sekedar membacanya.

Dalam Al-Quran juga dijelaskan bahwa orang-orang seperti ini akan diadukan oleh Rasulullah SAW kepada Allah sebagai orang yang mahjur. Quraish Shihab dalam Al-Misbah menjelaskan makna mahjur ini dengan mengutip pendapat Ibnu al-Qayyim.

Pertama, tidak tekun mendengarkannya; Kedua, tidak menghindari hal yang haram dan melakukan hal yang halal walaupun ia mengetahui; Ketiga, tidak menjadikan Al-Quran sebagai rujukan atas dasar-dasar agama (ushuluddin); Keempat, tidak berusaha untuk memahami hal-hal yang dikehendaki-Nya; dan kelima, tidak menjadikan Al-Quran sebagai obat dari penyakit-penyakit rohani.

Walaupun demikian, Quraish Shihab memahami bahwa tidak sedikit pula orang-orang yang beranjak dari posisi hanya sekedar membaca menuju proses pemahaman dan pendalaman. Namun demikian mereka terkadang terkendala dengan keilmuan dasar yang membutuhkan kemampuan lebih. Dalam Tafsir al-Misbah, ulama’ Al-Quran lah yang memiliki keilmuan-keilmuan tersebut yang harus bertanggung jawab untuk mengenalkan dan menjelaskan makna-makna tersebut kepada mereka.

Oleh karena itu, kita perlu introspeksi diri, apakah selama ini kita masih dalam taraf dan tergolong hamba Allah yang hanya membaca, golongan mahjur, ummy, atau keledai yang hanya mampu memikul buku (Q.S al-Jumuah: 5). Jika masih demikian, saatnya kita beranjak. Jika kita merasa tidak mampu dan tidak memiliki keilmuan yang cukup, jangan berusaha untuk memahami sendiri. Mari kita belajar dan minta penjelasan kepada orang-orang yang ahli di bidang ini, menguasai ilmu-ilmu bantu memahami Al-Quran, agar kita selamat dari golongan yang mahjur. amin. (AN)

Penjelasan lebih lanjut bisa dibaca dalam Tafsir Al-Misbah 15 Juz Lengkap

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here