Salah satu ayat dalam al-Qur’an yang menegaskan adanya kewajiban tanggung terhadap keluarga adalah QS al-Tahrim ayat 6, quw anfusakum wa ahlikum nara (jagalah dirimu begitupun keluargamu dari siksa neraka). Ada ketegasan al-Qur’an bahwa peran keluarga menjadi penentu kebahagiaan.  Quraish Shihab menyatakan, ayat ini mengingatkan bahwa dakwah dan pendidikan harus bermula dari rumah.

Tak salah, kita sering mendengarkan istilah baiti jannati (rumahku adalah surgaku). Mengapa rumah itu menjadi gambaran surga? Karena apa yang terdengar oleh anak dan keluarga, apa yang disaksikan salah satu penentu yang bisa mengantarkan mereka merasakan surga. Kiranya logis, sebab satu hal yang pasti menjamin kebahagiaan dalam hidup jika kebaikan selalu terdengar oleh dua telinga. mulut terucap dengan santun, dan perilaku selalu membawa kenyamanan buat orang lain. Itulah hakikat surga di dunia.

Bunda Teresa (Biarawati Katolik) pernah mengatakan apa yang kamu bisa lakukan untuk menyuarakan perdamaian dunia? Pulanglah dan cintai keluargamu (what can you do to promote world peace? Go home and love four family .Sebuah pesan yang mengisyaratkan keluarga sebagai pilar awal untuk menyuarakan kasih sayang dan perdamaian, jika dalam keluarga saja gagal menciptakan kebaikan dan cinta kasih, sebuh sinyal gagal pula menyuarakan kasih sayang pada semesta.

Karena itu, keluarga jangan justru menjadi baiti naarii (rumahku tak ubahnya nerakaku) jika seorang ayah membiarkan saja anaknya jauh dari agama, ia bangga pada karier anaknya, padahal karier yang ia jalani tak sejalan dengan nilai agama, mereka tak diajarkan bagaimana mencintai  Nabi SAW, padahal di antara kewajiban seorang bapak dan ibu pada anaknya, mengenalkan dan mengajarkan keteladanan Nabi SAW.

Wahbah Zuhaili katakan ‘allimuu (ajari mereka) wa addibuu (didiklah mereka), sebab keluarga tak sekedar ikatan biologis antara bapak ibu dengan anak. Tapi mengikat tanggung jawab dan amanah yang harus dijalankan.

Maka Allah tegaskan “jaga dirimu dan keluargamu dari neraka”.  Itu berarti jika mereka tak diajari, tak didik, lepas tanggung jawab, bisa saja mereka akan merasakan neraka. Minimal mereka tak punya kepastian hidup, sengsara dan tak merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Sebab “neraka” yang paling dekat dengan urat nadi dalam hidup ini berupa kesengsaraan dan suasana kebatinan yang selalu hampa.

Alasan itulah, mengantar pada sebuah pertanyaan mengapa penting menjaga keluarga bahkan ia dianggap pilar kekuatan ummat?

Pertama, tak ada warisan yang paling berharga dan berarti bagi seorang ibu dan bapak, kecuali ia mampu melahirkan dan mendidik keturunan yang baik. Sayangnya, mungkin tak sedikit (berarti banyak) dari orang tua yang lebih fokus menitipkan harta warisan sehingga ia mati matian mengumpulkan harta ketimbang mempersiapkan generasi, keturunan yang baik buat agama dan kemanusiaan setelah ia sudah tiada

Sebab, warisan harta, itu akan menjadi rebutan keluarga, tapi keturunan yang baik akan menjadi rebutan untuk umat manusia. Bukankah? Investasi jangka panjang, “rekening tabungan” yang terus mengalir dihadapan Allah adalah titipan anak yang baik, bermanfaat karena mendoakan kedua orang tuanya, dan mereka membawa manfaat buat kehidupan orang lain?

Kedua, keluarga adalah pilar kekuatan umat, karena peran keluarga bagian penting yang melanjutkan estafet manusia sebagai khalifah.  Semua manusia ditugaskan menjadi khalifah, yang berarti semua punya kewajiban memelihara bumi, mencintai negeri sendiri dan membawa manfaat pada sesama.

Sangat logis, mengapa ungkapan didiklah anakmu 25 tahun sebelum lahir? Ini sebagai penegasan, keluarga, kedua orang tua menjadi salah satu penentu untuk membawa dan menciptakan khalifah yang baik, memberi kemashlahatan dan membawa manfaat pada sesama. Alasan ini semakin kuat ketika Nabi SAW mengingatkan untuk memilih pasangan fadzh-far bi dzatin al din, taribat yadaaka (maka pilihlah, nikahilah perempuan yang baik agamanya, akhlaknya, engkau pasti bahagia dan beruntung).

Pesan Nabi ini sangat masuk akal, sebab dari rahim perempuan yang baik agamanya, perempuan yang tulus dan lembut mendidik, akan melahirkan manusia terbaik al ummu madrasatul uulaa (dari seorang ibu adalah sekolah pertama bagi seorang anak) begitulah syair Arab. Semoga kita semua, menjadi bagian dari kelompok manusia yang mampu menjaga dan melahirkan keturunan yang membawa kebaikan pada kemajuan peradaban dan bangsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here