Allah SWT menantang orang kafir yang meremehkan al-Qur’an untuk membuktikan keyakinan mereka. Allah meminta mereka untuk mengembalikan ruh yang sudah dikeluarkan dari tubuh manusia. Kalau mereka berkuasa atas dirinya sendiri, tentu akan mampu melakukannya. Tapi faktanya tidak ada satupun manusia yang mampu melakukan. Sebab, kehidupan dan kematian manusia ditakdirkan Allah SWT.

Dalam surat al-Waqi’ah ayat 88-91, Allah SWT menjelaskan bagaimana kondisi manusia ketika sakaratul maut. Allah berfirman:

فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ () فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ () وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ () فَسَلَامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ

Faammaa ingkaana minal muqarrabiin. Farauhuw waraihaanuw wajannatu na’iim. Waammaa ingkaana min ashhaabil yamiin. Fasalaamul laka min ashhaabil yamiin.

Artinya:

 “Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). Maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta jannah kenikmatan. Dan jika dia termasuk golongan kanan. Maka keselamatanlah bagimu karena kamu dari golongan kanan.” (QS: Al-Waqi’ah ayat 88-91)

 Saat orang kafir gagal membuktikan ucapan mereka bahwa tidak ada campur tangan kuasa Allah atas diri mereka, mereka pun harus menerima kenyataan bahwa mereka dalam keadaan tidak berdaya dalam menghadapi detik-detik kematian. Mereka hanya menyaksikan tubuh yang lunglai tidak berdaya sembari menunggu Malaikat Izrail mencabut nyawa mereka.

Saat menghadapi detik-detik kematian tersebut, manusia terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, golongan al-Muqarrabin atau golongan yang keistimewaannya di atas para penghuni surga. Golongan ini adalah orang-orang pilihan diantara para penghuni surga. Mereka ini adalah para Nabi-Nabi Allah.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan perbedaan antara golongan al-Muqarrabin dan para penghuni surga. Bahwa al-Muqarrabin tidaklah sekedar orang yang berbuat baik atau yang mengerjakan kewajiban. Mereka adalah yang menunaikan kewajiban serta kesunnahan, meninggalkan hal yang diharamkan serta dimakruhkan, serta meninggalkan sebagian hal-hal yang bersifat mubah atau boleh dikerjakan.

Ibnu Katsir lantas menjelaskan, berdasar hadis al-Barra’, al-Muqarrabin inilah yang saat ajal datang dan ruh mereka keluar layaknya setetes air yang keluar dari mulut tempat minum, oleh malaikat rahmat diberi ucapan:

أَيَّتُهَا الرُّوْحُ الطَّيِّبَةُ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ كُنْتِ تَعْمُرِيْنَهُ، اُخْرُجِي إِلٰى رَوْحٍ وَرَيْحَانٍ، وَرَبٌّ غَيْرُ غَضْبَانٍ

Wahai ruh yang baik di jasad baik yang sudah engkau makmurkan, keluarlah menuju ketentraman serta rizki bersama tuhan yang ridha.

Kedua, golongan penghuni surga. Mereka ini adalah orang-orang yang melaksanakan perintah Allah dan menjahui larangan-Nya. Namun mereka masih suka meninggalkan hal-hal sunnah, melakukan hal-hal yang dimakruhkan serta melakukan perkara yang dimubahkan.

Ibnu Katsir dijelaskan keadaan golongan kedua ini saat sakratulmaut: “Para malaikat memberi kabar gembira pada mereka dengan ucapan salam. Malaikat berkata pada salah seorang dari penghuni surga: ‘Semoga keselamatan diberikan untukmu’. Maksudnya, engkau tidak perlu risau. Engkau menuju kekeselamatan. Engkau termasuk penghuni surga”.

Ketiga, golongan penghuni neraka. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak mempercayai adanya hari kebangkitan, hari pembalasan amal, serta mendustakan ajaran al-Qur’an. Mereka akan memperoleh siksa sebagaimana akan dipaparkan di ayat 92-94.

Mempertimbangkan adanya tiga golongan tersebut, serta agar kelak saat kita menghadapi detik-detik kematian masuk dalam golongan penghuni surga, maka penting kiranya mempersiapkan diri untuk menghadapi detik-detik kematian dengan senantiasa beramal soleh dan memperbaharui taubat. Jangan sampai terlambat sehingga baru bertaubat saat menghadapi detik-detik kematian.

Allah menyatakan orang-orang yang melakukan hal buruk dan baru bertaubat saat sakratulmaut, maka taubatnya tidak diterima. Hal ini sebagaimana kisah pertaubatan Fir’aun tatkala tenggelam di sungai Nil. Allah berfirman:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. (QS: An-Nisa’ ayat 18)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here