Ayat 95-96 merupakan penutup dari surat al-Waqi’ah. Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa apa yang sudah dijelaskan dalam ayat sebelumnya pasti terjadi. Ada banyak orang yang meragukan karena belum mengalami. Allah tegaskan keraguan mereka suatu saat akan berganti dengan keyakinan. Allah SWT berfirman:

إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ () فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

Inna haadzaa lahuwa haqqul yaqiin. Fasabbih bismi rabbikal ‘adziim.

 Artinya:

 “Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu yang amat meyakinkan kebenarannya. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha besar.” (QS: Al-Waqi’ah ayat 95-96)

 Pada ayat 95, Allah mengatakan apa yang disebutkan dalam surat al-Waqi’ah pasti terjadi. Kebenarannya tingkat tinggi, sehingga tidak bisa diragykan. Imam al-Razi dalam Mafatihul Ghaib mengatakan tingkat kebenarannya tinggi dan tidak mungkin ada yang bisa menyatakan sebaliknya.

Di antara keterangan yang tak bisa disangkal lagi kebenarannya adalah manusia tidak bisa bebas berbuat semaunya, dan semua yang manusia alami, serta semua yang terjadi di dunia dan seisinya adalah bergantung pada kehendak Allah. Selain itu, kelak akan ada hari kebangkitan setelah kematian. Di mana semua apa yang manusia perbuat tatkala di dunia, akan menerima balasannya.

Allah telah membuktikan manusia tidak bisa bebas berbuat semaunya lewat pertanyaan seperti, saat manusia menanam padi apakah yang membuatnya tumbuh adalah manusia sendiri? Bisakah manusia mengatur turunnya hujan? Bisakah manusia menumbuhkan pohon sesuai kehendak mereka sendiri? Bisakah manusia terhindar dari kematian?

Kenapa saat manusia menanam padi dengan cara yang sedemikian canggih, tetap ada kejadian gagal panen? Kenapa hujan tidak turun saat manusia menginginkannya turun, serta tidak berhenti saat manusia menginginkannya berhenti? Kenapa saat manusia menanam pohon, pohon yang mereka tanam tidak selalu tumbuh sesuai kehendak mereka? Dan kenapa manusia tidak bisa menghindar dari kematian, pada mereka tidak menyukainya?

Terkait ayat 96, bagaimana bisa setelah menyatakan adanya sebuah keterangan yang amat valid kebenaranya, tiba-tiba setelah itu Allah memerintahkan untuk bertasbih? Imam Ibn ‘Asyur menerangkan, hal ini lantaran keterangan yang diberikan Allah di ayat sebelumnya memuat berbagai hal yang menunjukkan keagungan sifat Allah, keindahan cipataan-Nya, keadilan Allah dan lain sebagai. Maka selayaknya kita bertasbih kepada Allah usai mengetahui hal itu.

Sebagai penutup dari keterangan tentang Surat Al-Waqi’ah, di dalam menjelaskan tafsir surat al-Waqi’ah ayat 96, Imam Ibnu Katsir mengingatkan tentang keutamaan membaca tasbih. Beliau menyebutkan beberapa hadis tentang keutamaan membaca tasbih. Di antaranya:

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ. غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِى الْجَنَّةِ

Barangsiapa membaca (Subhanallahil adziim wabihamdihi), maka akan ditanamkan sebuah pohon kurma untuknya di surga.

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dan dinyatakan sebagai hadis sahih. Dalam hadis sahih lain, riwayat Imam Bukhari, disebutkan:

 كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Ada dua kalimat yang mudah diucapkan, berat tatkala di timbangan amal, dan disukai oleh Allah yang Maha Pengasih. Yaitu:

سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

(Subhanallahil ‘adhiim, subhanallahi wabihamdihi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here