Beberapa orang memiliki keyakinan bahwa saat mereka memperoleh kemuliaan, entah berupa harta atau jabatan, harta atau jabatan itu adalah milik mereka dan bebas mereka tunjukkan kepada siapa saja. Mereka merasa tidak memiliki tanggung jawab terhadap rasa iri orang lain. Islam tidaklah mengajarkan seorang muslim bersikap seperti itu.

Islam mengajarkan, sebisa mungkin kita harus menjaga suatu nikmat dari Allah dengan menyamarkannya dari orang yang kemungkinan akan iri kepada kita. Bukan karena orang lain bebas merasa iri kepada kita, tapi semata-mata cukuplah nikmat itu diketahui orang yang berkepentingan saja, dan jangan sampai justru menimbulkan pertikaian. Terutama pertikaian antar keluarga yang mudah mucul dan sebisa mungkin harus kita hindari.

Allah berfirman dalam ayat 4-5:

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لأبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ () قَالَ يَا بُنَيَّ لا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Idz qaala yuusufu liabiihi yaa abati innii raaitu ahada ‘asyara kaukaban wasy syamsa wal qamara raituhum lii saajidiin. Qaala yaa bunayya laa taqshush ru’yaaka ‘alaa ikhwatika fayakiiduu laka kaidan innasy syaithana lil ingsaani ‘aduwwum mubiin.

Artinya: 

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS: Yusuf ayat 4-5)

Teladan Rasa Kasih Sayang Seorang Ayah pada Anak-anaknya

Surat Yusuf ayat 4-5 tidaklah hanya menceritakan dua kekasih Allah atau dua Nabi Allah yang berbincang-bincang, tapi juga seorang anak dan ayahnya. Sang ayah adalah Nabi Ya’qub, sedang si anak adalah Nabi Yusuf. Ini tepat untuk dijadikan teladan tentang bagaimana sebaiknya menjalin hubungan antara seorang ayah bersama anaknya.

Nabi Yusuf bercerita kepada ayahnya tentang mimpi yang dilihatnya; yaitu sebelas bintang bersama rembulan dan matahari bersujud padanya. Imam Ibnu Katsir menjelaskan, Nabi Ya’qub mengetahui arti dari mimpi tersebut. Bahwa sebelas bintang itu adalah saudara-saudara Nabi Yusuf, sementara rembulan dan matahari tersebut adalah ibu dan ayahnya. Dan arti dari tindakan bersujud itu berarti Nabi Yusuf akan memperoleh kemuliaan di atas mereka.

Nabi Ya’qub; sang ayah, menunjukkan teladannya sebagai ayah. Melihat adanya kemungkinan anaknya bisa terjerumus pada bahaya tipu daya setan berupa rasa iri antar anggota keluarga, Nabi Ya’qub menyarankan putranya itu untuk menyembunyikan kabar tentang mimpi itu. Nabi Ya’qub berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu”.

Langkah ini sekaligus langkah untuk menyelamatkan putra-putra lainnya dari rasa iri. Sebab andai mereka tahu bahwa arti mimpi itu adalah saudara mereka akan memperoleh kemuliaan lebih dari yang mereka peroleh, tentu rasa iri akan muncul. Dan memang itulah yang terjadi saat mimpi Nabi Yusuf tersebut di ketahui oleh saudara-saudaranya.

Imam al-Razi dalam tafsirnya menjelaskan, sebelum Nabi Yusuf menceritakan perihal mimpi tersebut, Nabi Ya’qub sudah mengetahui adanya gelagat rasa iri dari anak-anaknya yang lain terhadap Nabi Yusuf. Oleh karena itu Nabi Ya’qub mengetahui, hal terbaik yang bisa ia sarankan kepada Nabi Yusuf adalah dengan menyembunyikan keberadaan mimpi tersebut.

Pentingnya Menjaga Diri Dari Para Pendengki

Saran Nabi Ya’qub kepada Nabi Yusuf untuk menyembunyikan mimpinya tersebut, adalah upaya menghindari rasa iri dari orang lain. Melindungi diri dari rasa rasa iri orang lain dengan cara menyembunyikan nikmat yang dimiliki, adalah satu ajaran Islam. Ibnu Katsir menyatakan, sebaiknya menyembunyikan suatu nikmat yang sedang akan didapat sampai nikmat tersebut benar-benar didapatkan.

Ibn katsir dan beberapa ahli tafsir juga mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan Ibn ‘Adiy dan Abu Nu’aim:

اِسْتَعِيْنُوْا عَلَى قَضَاءِ الْحَوَائِجِ بِكِتْمَانِهَا، فَإِنَّ كُلَّ ذِيْ نِعْمَةٍ مَحْسُوْدٌ

Berusahalah memperoleh kebutuhanmu dengan cara menyembunyikannya. Sesungguhnya setiap nikmat memiliki pendengkinya tersendiri

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here