Pulang dari Mesir dengan membawa persedian makanan, saudara-saudara Nabi Yusuf kembali dengan membawa pesan untuk mengajak Bunyamin ke Mesir. Mereka tidak sadar, harta yang sedianya ditukar sebagai ganti persediaan makanan yang mereka bawa dari Mesir, dikembalikan bersama persediaan makanan di karung-karung yang mereka bawa. Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 62-64:

وَقَالَ لِفِتْيَانِهِ اجْعَلُوا بِضَاعَتَهُمْ فِي رِحَالِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَعْرِفُونَهَا إِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ () فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَى أَبِيهِمْ قَالُوا يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ () قَالَ هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلَّا كَمَا أَمِنْتُكُمْ عَلَى أَخِيهِ مِنْ قَبْلُ فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

 

Waqaala lifityaanihij’alu bidhaa’atahum fii rihaalihim la’allahum ya’rifuunahaa idzangqalabuu ilaa ahlihim la’allahum yarji’uun. Falammaa raja’uu ilaa abiihim qaaluu yaa abaanaa muni’al kailu faarsil ma’anaa akhaanaa naktal wainnaa lahu lahaafidluun. Qaala hal aamanukum ‘alaihi illaa kamaa amintukum ‘alaa akhiihi ming qablu fallaahu khairun haafidhaw wahuwa arhamur raahimiin.

Artinya: 

“Yusuf berkata kepada pembantu-pembantunya, ‘Masukkanlah barang-barang (penukar kepunyaan mereka) ke dalam karung-karung mereka, supaya mereka mengetahuinya apabila mereka telah kembali kepada keluarga mereka. Mudah-mudahan mereka kembali lagi.’ Maka tatkala mereka telah kembali kepada ayah mereka (Ya’qub) mereka berkata, ‘Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat persediaan makanan lagi, (jika tidak membawa saudara kami). Sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami supaya kami mendapat persediaan makanan, dan sesungguhnya kami benar benar akan menjaganya.’ Berkata Ya’qub, ‘Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?’ Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang. (Surat Yusuf ayat 62-64).

Mengembalikan Harta Saudara-Saudaranya

Nabi Yusuflah yang dengan sengaja meletakkan harta yang sedianya ditukar dengan persediaan makanan di karung saudara-saudara tirinya. Jadilah saudara-saudara tirinya kembali ke tempat asal mereka dengan membawa persediaan makanan yang mereka butuhkan dengan tanpa kehilangan apapun. Apa alasan Nabi Yusuf diam-diam mengembalikan harta yang seharusnya ia terima itu?

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengungkapkan tiga pendapat mengenai alasan Nabi Yusuf mengembalikan harta mereka. Pertama, Nabi Yusuf takut bilamana mereka tidak memiliki harta lain yang bisa mereka bawa ke Mesir, untuk ditukarkan persediaan makanan. Kedua, Nabi Yusuf merasa tak pantas mengambil sesuatu dari ayah serta saudara-saudaranya. Ketiga, agar kemudian saudara-saudara tirinya terpaksa kembali ke Mesir, sebab merasa harta itu bukan lagi hak mereka.

Membujuk Sang Ayah

Saudara-saudara tiri Nabi Yusuf menepati janji mereka untuk berusaha mengajak Bunyamin ke Mesir. Mereka kemudian membujuk ayah mereka; Nabi Ya’qub, untuk merelakan Bunyamin pergi bersama mereka ke Mesir, saat hendak kembali mencari persediaan makanan.

Untuk itu, mereka mengadu tidak akan memperoleh persediaan makanan lagi dari kerajaan Mesir, bila mereka tidak mengajak Bunyamin bersama mereka. Mereka juga berjanji akan menjaga Bunyamin dengan baik saat membawanya ke Mesir. Mendengar janji itu, yang mirip dengan janji yang dahulu pernah mereka ucapkan saat membawa pergi Nabi Yusuf, Nabi Ya’qub menyampaikan pertanyaan menohok untuk mereka.

Apakah kalian menjanjikan sesuatu sebagaimana yang kalian janjikan terhadap Yusuf? Janji menjaganya tapi kenyataanya justru membuatnya pergi dan tak kembali? Begitulah barangkali yang hendak dipertanyakan Nabi Ya’qub terhadap anak-anaknya. Pertanyaan yang menunjukkan keraguan dari Nabi Ya’qub, bahwa anak-anaknya akan bisa menjaga Bunyamin serta tidak membuat ia berakhir sebagaimana Nabi Yusuf.

Meski ragu akan janji-janji anaknya, Nabi Ya’qub berkata, “Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang.” Ucapan ini menurut kebanyakan ahli tafsir merupakan petunjuk bahwa Nabi Ya’qub memberi izin kepada anak-anaknya, untuk membawa serta Bunyamin ke Mesir. Meski Nabi Ya’qub saat hendak melepas Bunyamin tidak mempercayai penjagaan anak-anaknya, tapi ia percaya bahwa Allah akan menjaga Bunyamin.