Saat itu, Madinah sedang dalam keadaan paceklik. Ustman bin Affan memesan gandum dengan jumlah yang cukup banyak dari luar Madinah. Hingga suatu hari, gandumnya datang di Madinah. Gandum milik Utsman ini ternyata langsung membuat para pedagang tertarik.

Mereka (para pedagang itu) ingin membelinya dari Ustman dan kemudian di jual lagi dengan harga yang lebih mahal. Dalam prediksi mereka, pasti gandum itu akan laku di pasaran dan mereka pasti akan mendapat untung yang begitu banyak, mengingat saat itu adalah musim paceklik. Masyarakat luas pasti sangat membutuhkannya.

Satu pedagang datang kepada Utsman dan berkata akan membelinya dengan sejumlah harga tertentu, namun Utsman menolaknya. Ia mengatakan, “Sebeulumnya, sudah ada yang akan membelinya dengan harga yang lebih mahal daripada harga yang engkau tawarkan kepadaku.” Pembeli itu gagal mendapatkan gandum milik Utsman.

Dalam kesempatan yang lain, datang lagi seorang pedagang yang akan membeli gandum itu dengan harga tertentu juga, dan jawaban Ustman pun sama. Ia mengatakan bahwa sebelumnya sudah ada yang akan membelinya dengan harga yang lebih mahal, dan oleh karenanya Utsman tak tertarik untuk menjual gandum itu kepadanya.

Hingga banyak pedagang yang datang kepada Utsman dengan tujuan akan membeli gandum miliknya. Harga yang ditawarkannya pun oleh para pedagang itu terus meningkat dari waktu ke waktu. Namun Ustman tetap keukeuh pada jawaban semula. Ia menolak dengan alasan bahwa sudah ada yang menawarkan harga yang lebih mahal.

Karena penasaran dengan siapa sebenarnya yang akan membeli gandum milik Utsman, para pedagang ini pun akhirnya sepakat untuk mendatanginya. Mereka berkata, “Kami yakin, tak akan ada yang mampu membeli gandum milik Anda dengan harga yang melebihi harga tertinggi yang kami tawarkan. Lantas siapa gerangan yang mampu membeli gandum milik Anda ini?”

Ustman menjawab, “Allah telah menawarkan keuntungan sebanyak tujuh ratus persen dan aku pun menyetujuinya. Dan kini akan aku serahkan gandum ini kepada yang diberi-Nya, yakni masyarakat miskin”. Ia pun lantas membaca ayat:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.(QS. Al-Baqarah [2]: 261)

Kisah di atas yang termaktub dalam buku Yang Bijak dari M. Quraish Shihab karya M. Quraish Shihab. Selain belajar tentang kedewasaan kebijaksanaan dalam menghadapi paceklik, yakni tidak menari di atas penderitaan orang lain (tidak menjual barang barang primer dengan harga selangit), kita juga bisa memahami bahwa berbisnis yang paling menguntungkan adalah berbisnis dengan Allah.

Perumpamaan dalam ayat di atas menunjukkan betapa banyak balasan yang akan Allah berikan kepada mereka yang berinfak ketika di dunia, yakni mereka yang (ikhlas) menyerahkan dan mentasarufkan hartanya untuk ketaatan kepadaNya dan berbagai macam kebaikan. Begitu kurang lebih penjelasan dalam tafsir Al-Muntakhab.

Walhasil, berbisnis adalah mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Beli dengan harga sekian dan dijual dengan harga yang lebih banyak dari itu. Namun, dalam prakteknya, nilai kemanusiaan juga harus selalu dilibatkan. Misalnya, tidak memanfaatkan kesusahan orang lain hanya untuk mengejar laba yang tidak wajar. Jika ingin laba yang sangat besar, maka berbisnislah dengan Allah Swt! Wallahu a’lam.

 

Sumber:

Al-Azhar, Tim Lajnah Ulama. al-Muntakhab fi Tafsir al-Qur’an al-Karim. Mesir: al-Majlis al-A’la, 1995.

Shihab, M. Quraish. Yang Bijak dari M. Quraish Shihab. Tangerang: Lentera Hati, 2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here