Teroris itu benar adanya. Mereka nyata. Kasus yang baru terjadi di Sigi paling tidak menjadi bukti bahwa kelompok teror masih eksis di Indonesia. Pelakunya adalah Majelis Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora. Pemerintah diharapkan untuk segera menangkap pelaku teror tersebut supaya aksi teror seperti yang terjadi di Sigi tidak terulang kembali.

Sembari aparat hukum bertugas, tokoh agama hendaknya membantu dalam hal menyebarluaskan narasi perdamaian dan penolakan terhadap aksi kekerasan. Dalam situasi seperti ini, sangat disayangkan bila masih ada saja agamawan atau pendakwah yang mengumbar kebencian, makian, dan kekerasan dalam mimbar dakwahnya.

Beberapa hari lalu misalnya, masih saja beredar luas di media sosial, video pengajian yang menggunakan kata-kata kasar dan kekerasan yang tidak pantas disampaikan oleh seorang pendakwah di forum pengajian. Khawatirnya, narasi kekerasan dan kekasaran yang disampaikan pendakwah tersebut digunakan oleh kelompok tertentu untuk melakukan tindak kekerasan.

Melihat fenomena ini, Ustadz Ahong menegaskan, “Jika ada pendakwah yang suka mencaci-maki dan provokasi, segera tinggalkan”. Rasulullah diutus untuk memperbaiki akhlak manusia. Sangat disayangkan bila ada pendakwah yang tugasnya adalah untuk mendidik umat, tapi dia sendiri tidak menunjukkan akhlak mulia di hadapan masyarakat.

Ustadz peraih MAARIF award itu menjelaskan, Nabi SAW bersabda, “Aku diutus bukan untuk melaknat atau mencaci maki. Aku diutus untuk menebar kasih sayang (HR Muslim)

Menurut satu riwayat, hadis tersebut dikatakan Rasulullah saat perang Uhud. Para sahabat mendesak Rasulullah mendoakan celaka terhadap musuh-musuhnya. Tapi Rasulullah itu bukan orang yang suka menebar caci maki, perkataan kotor, dan laknat (HR. Bukhari, al-Adab al-Mufrad)

“Jika bengis dan pendendam, Rasulullah SAW pasti langsung memohon pada Allah untuk menghancurkan orang-orang yang mencegah tegaknya kebebasan menjalankan keyakinan masyarakat Muslim waktu itu”, Tegas Ustadz Ahong.

*Jangan Lupa Follow Twitter Ustadz Ahong di sini