Pendukung khilafah selalu berusaha semaksimal mungkin untuk membuktikan kalau khilafah itu memiliki legitamasi dalam Islam. Mereka menggunakan al-Qur’an, hadis, fakta sejarah, dan lain-lain. Tapi sayangnya, kalau mau jujur dan terbuka, tidak ada satupun dalil tegas al-Qur’an dan hadis yang mewajibkan pemimpin. Keharusan adanya pemimpin dan pemerintahan dalam sebuah masyarakat dan negara mungkin ada dalilnya. Tapi kalau sistem pemerintahan khilafah seperti yang diimajinasikan Hizbut Tahrir Indonesia bisa dipastikan tidak ada dalil yang tegas dalam al-Qur’an dan hadis membenarkan itu.

Para pendukung khilafah ini sangat rajin mengumpulkan kata khilafah dalam al-Qur’an, hadis, karya ulama, dan sejarah. Tujuannya tidak lain adalah untuk mencari pembenaran. Mereka menggunakan itu untuk membuktikan kalau apa yang mereka perjuangkan ada lantasan tekstualnya. Dalam beberapa tulisan di Islami.co sudah pernah dibahas, salah paham pendukung khilafah terhadap pendapat ulama. Mereka katakan Imam al-Ghazali dan Syekh Wahbah Zuhaili merestui khilafah hanya karena kedua ulama ini menggunakan kata khilafah dalam beberapa karyanya. Padahal khilafah yang dimaksud Imam al-Ghazali dan Syekh Wahbah tidak sama dengan apa yang dipahami HTI.

Sekalipun sudah dibubarkan pemerintah, wacana khilafah tak henti-hentinya dikumandangkan para pendukungnya. Belakangan mereka mencoba mencari pembenaran dalam sejarah Indonesia. Mereka membuat film dokumentar berjudul Jejak Khilafah di Nusantara. Film ini mendapat respon dan kritikan dari berbagai pihak, khususnya terkait pencatutan nama Peter Carey.

Pakar sejarah Islam Prof. Azyumardi Azra dalam sebuah diskusi mengatakan tidak ada jejak khilafah di Indonesia. Kalaupun ada istilah khalifah yang dipakai oleh raja-raja Nusantara, maksudnya bukan seperti khalifah yang dibayangkan HTI. Raja mataram misalnya, namanya Sayyidin Panotogomo Khalifatullah. Kata khalifatullah di sini maksudnya sebagai wakil Allah di muka bumi.

“Apakah dia khalifah? Bukan. Khalifah itu artinya dia wakil Allah di muka bumi. Kenapa begitu? Karena memang raja di nusantara ini selalu menempatkan posisi mereka itu pada posisi yang sangat absolut, di bawah Allah. Misalnya, sultan dan raja itu selalu dipakai gelar Zillullah fil ardh, bayang-bayang Allah di muka bumi. Hampir seluruh raja di nusantara ini selalu mengklaim mereka itu Zhillullah. Bahkan, memakai gelar Qutbul Din, poros atau pilar agama” Jelas Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Prof. Azyumardi Azra menambahkan, “Jangan mengada-ada, yang faktanya tidak ada, dibikin-bikin sendiri. Saya kira salah satu dosa terbesar dalam sejarah itu ada dua: membikin-bikin fakta, itu yang pertama, yang kedua memanipulasi data. Kalau misalnya ada data dan fakta, kemudian anda interpretasikan dan interpretasinya salah, itu biasa saja. Tapi kalau dibikin sendiri fakta, data, ngak ada buktinya, ngak ada sumbernya, yang bisa diverifikasi dan dipertanggungjawabkan adalah dosa besar.”

Sejarawan tidak boleh menampilkan data dan fakta yang palsu. Buktikan kalau fakta dan datanya ada, baru ditafsirkan. Kalau penafsiran salah, itu biasa, asalkan data, fakta, dan buktinya valid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here