Di tengah hiruk-pikuk pembahasan nasab di sosmed yang sudah berbulan-bulan lamanya ini, sampai Raja Dangdut juga ikutan berkomentar, ada satu hal yang membuat masalah ini semakin berlarut-larut, yaitu ketika kita menjelaskan dan mengingatkan tentang keindahan, kedamaian, ketentraman dan keharmonisan yang terjalin antar para Kiai dan Habaib mulai sejak dulu kala, maka para sahabat kita di sebelah sana akan membalas itu dengan kesalahan atau blunder-blunder dari oknum-oknum yang sebenarnya bukan merupakan representasi dari semua Habaib Ba’alawy di Indonesia apalagi di dunia.

Saya paham, para sahabat kita yang kontra dengan Habaib mungkin punya pengalaman tidak mengenakkan, atau mungkin trauma, dengan sebagian oknum Ba’alawy, saya pun juga sama seperti itu, saya beberapa kali gregetan ketika melihat prilaku oknum yang “menggemaskan” seperti itu, yang bawa-bawa nama leluhurnya tapi sama sekali tidak mencerminkan apa yang selama ini dicontohkan oleh para pendahulunya.

Tapi perlu kamu catat dan garisbawahi, ketika saya menulis tulisan yang mendukung para Habaib, itu bukan berarti saya setuju dengan “oknum” Ba’alawy yang suka menyombongkan nasab dan merendahkan selain golongannya. Bukan berarti saya mengiyakan oknum yang menganggap orang lain tidak setara dengan derajatnya. Bukan berarti saya membenarkan oknum yang mengatakan bahwa: belajar kepada satu Habib jahil lebih baik dari belajar kepada tujuh puluh Kiai yang alim.

Bukan berarti saya setuju kepada oknum yang tanpa data mengatakan: tanpa restu 5 Habib, NU tak akan ada di Indonesia! Bukan berarti saya setuju kepada oknum yang berkata bahwa wali songo sudah punah keturunannya, dan bukan berarti saya setuju kepada oknum yang konten ceramahnya selalu menuntut cinta Habaib atau membahas karomah-karomah leluhurnya seakan-akan tidak ada pembahasan selainnya.

Saya bersamamu dalam hal ini, saya sama sekali tidak menyetujui oknum-oknum yang seperti itu, tapi sekali lagi itu hanyalah oknum, yang meskipun banyaknya sampai se-kecamatan sekalipun, oknum tetaplah oknum dan tak layak dijadikan representasi untuk menilai Habaib Ba’alawi secara keseluruhan. Sekali lagi oknum-oknum itu tidak mewakili manhaj Habaib, dan yang tidak setuju dengan mereka juga tidak boleh dikatakan sebagai “pembenci Habaib”.

Tapi memang penyakit kita sejak dulu adalah الإستعمام: suka menggeneralisir, meng-umum-kan, meratakan dan men-semua-kan, kalo ada segelintir Habaib berbuat salah, kita langsung aja gebyah uyah kalo semua Habaib juga sama seperti itu.

Ketika saya belajar kepada Habib Umar di Tarim, beliau selalu mengajarkan kami untuk bijak dalam memilih konten dakwah yang akan disampaikan, jangan membahas hal-hal “Hassas” (sensitif) yang bisa menimbulkan perpecahan dan perdebatan, jangan bahas tentang kisah-kisah karomah yang tidak bisa dijangkau oleh orang kebanyakan, dan jangan membawa narasi yang ada kesan menghina atau merendahkan.

Saya pernah bertanya langsung kepada Habib Umar, ketika itu saya mendapat tugas untuk menjadi pengurus para santri dauroh (program tahunan ngaji kilatan 40 hari bersama Habib Umar, peserta berasal dari berbagai berbagai penjuru dunia).

“Sidi, apakah boleh kami menjelaskan tentang ke istimewaan guru dan tempat dimana kami belajar kepada mereka?”

Beliau menjawab :

“Jika itu terkesan merendahkan guru atau tempat menuntut ilmu lainnya maka jangan, jika itu membuat kesan seolah kebaikan hanya ada pada guru kita dan tempat kita belajar maka jangan, tapi jika itu hanya untuk menambahkan kecintaan dan keyakinan maka silahkan.”

Saya adalah orang yang biasa hidup, bergaul dan berserawungan dengan golongan Habaib mulai sejak dulu, saya pernah mondok di Pondok Kiai-Kiai Jawa, saya juga pernah belajar di “pusat”-nya pondok Habaib di Tarim. Saya pernah menghadapi para Habaib dengan segala sifat, karakter dan tabiatnya. Ketika di Tarim Saya punya kenalan Sadah Ba’alawi dari berbagai penjuru dunia, mulai dari Indonesia, Malaysia, Hadhramaut sendiri, Yaman Utara, Saudi, Kenya, India, Srilanka bahkan yang dari Inggris juga ada.

Apakah mereka semua sama? Tentunya tidak, mereka adalah manusia sama seperti kita, yang buaaaiik banyak, yang nyebelin juga banyak, yang Allamah banyak, yang kurang berilmu ya juga ada, yang ramah dan mudah bergaul dengan siapapun banyak, yang agak tertutup dan ekslusif juga ada. Namanya juga manusia kan?

Jaga ekspektasi kita kepada siapapun, karena siapapun kita, keturunan siapapun kita, anak siapapun kita, kita semua sedang berproses, kadang benar kadang salah, kadang tegap kadang terjatuh, kita sedang berusaha menjadi yang terbaik versi diri kita masing-masing.

Tapi Kalo mau di-framingkan bahwa Habaib Ba’alawi adalah golongan yang super ekslusif maka saya jelas akan menolaknya, ketika di Tarim ada beberapa Habaib yang ngaji privat nahwu kepada saya, salah satunya cucu Habib Muhammad Bin Thohir Al-Haddad Tegal, bahkan meskipun saya adalah adik kelas mereka di sana. Pun kalo mau di-framing-kan bahwa Habaib cenderung menggunakan nasabnya untuk mendapat keuntungan duniawi, saya akan tegas mengatakan tidak semua seperti itu, donatur bulanan yang membantu para santri-santriwati di pondok kami sebagian dari kalangan Habib dan Syarifah, ketika Pondok membuka donasi pembangunan Mushalla, seorang Habib juga mengirim donasi bernilai jutaan rupiah hanya setelah melihat selebaran infaq yang saya share di story wa.

Ketika pertama kali adik saya Ibrohim divonis gagal ginjal, yang pertama kali memberi kami info tentang Transplantasi Ginjal adalah seorang Habib dari Solo, Habib Haedar Assegaf namanya, Bib Haidar punya kakak, Syarifah Hana, yang dulu juga mengalami gagal ginjal tapi sudah punya ginjal baru setelah sukses menerima cangkok ginjal dari ibunya. Syarifah Hana ini yang mengedukasi kami tentang proses Transplantasi mulai A sampai Z, sangat telaten menjawab berbagai pertanyaan kami sampai operasi berjalan sukses dan lancar, dan beliau sosok yang sangat ramah, humble dan tawadhu’, nama akunnya bahkan tidak menyertakan nama marganya.

Dan sosok yang luar biasa baik seperti beliau-beliau di kalangan Habaib-Syaraif Ba’alawi jumlahnya banyak sekali, bukan hanya satu dua. Kalian yang membaca tulisan ini mungkin juga punya beberapa kenangan mengesankan dengan para Sadah Ba’alawy yang kalian kenal atau yang sekedar kalian temui.

Saya sering berandai-andai, andaikan mereka yang terpengaruh dengan framing anti-habaib mengenal tentang Ba’alawy dari Habaib-Habaib yang seperti itu, bukan dari pengalaman menyakitkan mereka, atau dari framing-framing yang dimunculkan di sosial media akhir-akhir ini, mungkin perdebatan masalah nasab tak akan sesengit dan selarut ini, tapi Qaddarallah wa masya’a fa’al, selalu ada hikmah dari Allah dalam setiap takdir yang dijatuhkan-Nya.

Pada akhirnya, seperti apapun keyakinanmu terhadap para Habaib Ba’alawy, jangan berusaha mengajak kami untuk meyakini suatu hal baru yang tidak diyakini para pendahulu kami seperti Syaikhona Kholil dan KH. Hasyim Asy’ari. Karena bagi kami tentu sangat aneh sekali jika harus meyakini atau sekedar merasa bahwa kami mengetahui sesuatu yang luput dari pengetahuan beliau-beliau yang ilmunya seluas lautan samudra itu. Keyakinan kami para Nahdiyyin sejak dulu: para awliya’ dengan ilmu, kasyaf dan bashiroh ( mata hati ) mereka pasti mengetahui jutaan hal yang tidak kita ketahui, bukan malah kebalikannya.

Semoga tetap istiqomah mengikuti apa yang selama ini beliau-beliau contohkan, bukan hanya dalam masalah ini, tapi juga dalam setiap detail kehidupan kita.

و كل خير في اتباع من سلف * و كل شر في ابتداع من خلف

Sekali lagi, kita tidak harus berfikiran sama, tapi mari kita sama-sama berfikir.