Dari Ibnu ‘Umar L, dia berkata, ‘Rasulullah ﷺ bersabda,

«ثَلاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بنفْسِهِ»

“Tiga perkara yang membinasakan; kebakhilan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan takjubnya seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. at-Thabraniy di dalam al-Mu’jam al-Kabiir)

Al-muhlikaat, adalah perkara-perkara yang menjerumuskan kepada kebinasaan.

Yang pertama, kebakhilan yang ditaati.

Kebakhilan tersebut telah dikhususkan dengan yang ditaati untuk memberikan peringatan bahwa kebakhilan di dalam jiwa tidaklah termasuk perakra yang berhak mendapatkan celaan, karena itu bukan termasuk bagian dari perbuatannya, namun yang dicela hanyalah ketundukan kepadanya.

As-Syukh, adalah kebakhilan dengan disertai ketamakan. Dan dikatakan ia adalah mengambil yang bukan miliknya karena zhalim dan permusuhan, baik berupa harta atau selainnya.

Datang seorang laki-laki kepada Ibnu Mas’ud  seraya berkata, ‘Wahai Abu Abdirrahman, sesungguhnya aku takut binasa. Lalu ‘Abdullah berkata kepadanya, ‘Apa itu?’ dia berkata, ‘Aku mendengar Allah ﷻ berfirman,وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩

… dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung. (QS. al-Hasyr (59): 9)

Dan aku adalah seorang laki-laki yang bakhil, hampir-hampir aku tidak mengeluarkan sesuatupun dari tanganku.’ Maka Ibnu Mas’ud berkataلَيْسَ ذَلِكَ بِالشُّحِّ الَّذِيْ ذَكَرَ اللهُ فِيْ الْقُرْآنِ، إِنَّمَا الشُّحُّ الَّذِيْ ذَكَرَ اللهُ فِي الْقُرْآنِ أَنْ تَأْكُلَ مَالَ أَخِيْكَ ظُلْمًا، وَلَكِنْ ذَلِكَ الْبُخْلُ، وَبِئْسَ الشَّيْءِ الْبُخْلُ

“Bukanlah bakhil yang demikian yang telah Allah sebutkan di dalam al-Qur`an, namun bakhil yang telah Allah sebutkan di dalam al-Qur`an adalah Engkau memakan harta saudaramu dengan cara zhalim. Namun itu adalah pelit, dan seburuk-buruk sesuatu adalah pelit.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jariir di dalam at-Tafsir)

Lalu apa perbedaan antara as-syukhkhu dan al-bukhlu?

As-syukhkhu adalah tamak terhadap apa yang tidak ada pada dirinya. Sementara al-bukhlu adalah tamak terhadap apa yang ada padanya.

Al-Qurthubiy berkata, ‘Thawus berkata, ‘al-Bukhlu, adalah seorang manusia bakhil dengan apa yang ada pada dirinya, sementara ­as-syukhkhu adalah bakhil dengan apa yang ada di tangan-tangan manusia, dia senang jika apa yang ada di tangan mereka menjadi miliknya dengan yang halal dan haram.’ (at-Tafsir, XVIII/21)

Dan ini adalah satu pendapat.

Ibnul Qayyim berkata, ‘Perbedaan antara as-syukhkhu dan al-bukhlu adalah bahwa as-syukhkhu adalah sangat tamak terhadap sesuatu, mengulang-ulang pencariannya, melakukan penyelidikan dalam rangka meraihnya, serta kerakusan jiwa terhadapnya. Sementara al-bukhlu adalah menolak untuk membelanjakannya setelah dia meraihnya, dia mencintainya dan menahannya. Maka dia adalah orang yang bersifat syukh sebelum mendapatkannya, dan bersifat bakhil setelah mendapatkannya. Maka bakhil adalah buah dari sifat syukh, dan sifat syukh mengajak kepada kebakhilan. Syukh tersembunyi di dalam jiwa, maka barangsiapa bersikap bakhil, maka sungguh dia telah mentaati syukhnya, dan barangsiapa tidak bakhil, maka dia telah bermaksiat kepada syukhnya, dan terjaga dari keburukannya. Dan dialah orang yang beruntung. Allah ﷻ berfirman,وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩

… dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntun. (QS. al-Hasyr (59): 9) (al-Waabil as-Shaib, hal. 52)

Dan ayat ini terulang pada dua tempat dari al-Qur`an; yaitu pada surat al-Hasyr dan at-Taghabun. Dan maknanya adalah barangsiapa selamat dari sifat syukh, maka sungguh dia telah beruntung dan sukses.

Dan sebab nuzul ayat yang ada di al-Hasyr adalah apa yang telah shahih di dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Hurairah bahwa ada seorang laki-laki mendatangi Nabi ﷺ, lalu Nabi mengutus utusan kepada istri-istri beliau, lalu mereka berkata, ‘Kami tidak memiliki apa-apa kecuali air.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda,«مَنْ يُضِيفُ هَذَا»؟ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ: أَنَا. فَانْطَلَقَ بِهِ إِلَى امْرَأَتِهِ، فَقَالَ أَكْرِمِي ضَيْفَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم. فَقَالَتْ: مَا عِنْدَنَا إِلَّا قُوتُ صِبْيَانِي. فَقَالَ: هَيِّئِي طَعَامَكِ، وَأَصْبِحِي سِرَاجَكِ، وَنَوِّمِي صِبْيَانَكِ إِذَا أَرَادُوا عَشَاءً. فَهَيَّأَتْ طَعَامَهَا، وَأَصْبَحَتْ سِرَاجَهَا، وَنَوَّمَتْ صِبْيَانَهَا، ثُمَّ قَامَتْ كَأَنَّهَا تُصْلِحُ سِرَاجَهَا فَأَطْفَأَتْهُ، فَجَعَلَا يُرِيَانِهِ أَنَّهُمَا يَأْكُلَانِ، فَبَاتَا طَاوِيَيْنِ، فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَ: «عجِب اللَّهُ اللَّيْلَةَ فَعَالِكُمَا»، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: }وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ{.

“Siapa yang mau menjamu orang ini?’ Maka berkatalah seorang laki-laki dari kalangan Anshar, ‘Saya.’ Lalu diapun pergi dengan lelaki itu menuju istrinya, kemudian berkata (kepada istrinya), ‘Muliakanlah tamu Rasulullah ﷺ.’ Sang istri berkata, ‘Kita tidak memiliki apa-apa kecuali makanan anak-anakku.’ Dia berkata, ‘Siapkanlah makananmu, nyalakanlah lampumu, dan tidurkanlah anak-anakmu jika mereka ingin makan malam.’ Lalu sang istripun menyiapkan makanannya, lalu menyalakan lampunya, menidurkan anak-anaknya, kemudian dia berdiri seakan-akan dia hendak memperbaiki lampunya, lalu dia mematikannya. Kemudian keduanya memperlihatkan seakan-akan keduanya sedang makan. Lalu dimalam hari itu keduanya tidur dalam keadaan kelaparan. Maka tatkala di pagi hari, laki-laki Anshar itu pergi menuju Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, ‘Allah takjub dengan perbuatan kalian berdua tadi malam.’ Lalu Allah menurunkan ayat: “… dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.

Sungguh Nabi ﷺ telah memberikan peringatan dari sifat syukh, dari Jabir bin ‘Abdillah , bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,«اتَّقُوا الظُّلْمَ؛ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ؛ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ»

“Takutlah kalian dari kezhaliman, dikarenakan kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Dan takutlah kalian dari syukh, dikarenakan syukh adalah perkara yang membinasakan orang-orang yang sebelum kalian. Syukh itu membawa mereka untuk menumpahkan darah-darah mereka, dan menghalalkan kehormatan-kehormatan mereka.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,«اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ» قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا هِيَ؟ قَالَ: «الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالشُّحُّ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ»

“Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang menghancurkan.” Dikatakan, ‘Ya Rasulullah, apa yang membinasakan itu?’ Beliau bersabda, ‘Mensekutukan Allah, syukh, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan hak, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh zina wanita baik-baik yang lalai (dari berbuat maksiat) lagi beriman.” (HR. an-Nasa`iy)

Di dalam Sunan Abi Dawud terdapat sabda Nabi kita ﷺ,«شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ»

“Seburuk-buruk perkara yang ada pada diri seorang laki-laki adalah syukh (bakhil) yang kaget (dan panik jika dikeluarkan dari hartanya apa yang menjadi kewajibannya), dan sifat pengecut yang (mampu) melepas (hatinya karena sangat takutnya).”

Kedua, Mengikuti hawa nafsu.

Ar-Raaghib berkata di dalam al-Mufradaat (hal. 548), ‘Hawa itu adalah kecondongan jiwa kepada syahwat.’

Maka mengikuti hawa nafsu adalah lebih mengutamakan kecondongan jiwa kepada syahwat, dan tunduk kepadanya dalam perkara yang ia mengajak kepadanya, yaitu berupa bermaksiat kepada Allah ﷻ.

Adalah Nabi ﷺ biasa meminta perlindungan kepada Allah dari yang demikian. Disebutkan di dalam Sunan at-Tirmidzi, ‘Adalah termasuk diantara do’a Nabi ﷺ,[arabic-font]«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلَاقِ، وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ»[/arabic-font]

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kemungkaran-kemungkaran akhlaq, amal-amal, dan hawa-hawa nafsu.”

Di dalam al-Musnad milik Imam Ahmad dari Abu Barzah al-Aslamiy I, bahwa dia berkata, ‘Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ، شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَفُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْهَوَى

“Sesungguhnya termasuk perkara yang kukhawatirkan terhadap diri kalian adalah syahwat dosa pada perut-perut dan kemaluan-kemaluan kalian, serta kesesatan-kesesatan hawa nafsu.”

Ibnu ‘Abbas berkata,مَا ذَكَرَ اللهُ- عَزَّ وَجَلَّ- الْهَوَى فِيْ مَوْضِعٍ مِنْ كِتَابٍ إِلاَّ ذَمَّهُ

‘Tidaklah Allah ﷻ menyebut hawa nafsu di suatu tempat di dalam kitab-Nya melainkan Dia mencelanya.’ (Dzammul Hawa, Ibnul Jauziy)

Al-Hasan al-Bashriy  berkata,الهَوَى شَرُّ دَاءٍ خَالَطَ قَلْبًا

“Hawa nafsu adalah seburuk-buruk penyakit yang mencampuri hati.” (as-Sunnah, ‘Abdullah bin Ahmad, I/138 no. 105)

Ketiga, Takjubnya seseorang terhadap dirinya sendiri

Maknanya adalah dia menyangka dirinya sendiri dengan apa yang tidak ada padanya.

al-Qurthubi berkata,هُوَ النَّظَرُ إِلىَ نَفْسِهِ بِعَيْنِ الْكَمَالِ وَالاِسْتِحْسَانِ مَعَ نِسْيَانِ مِنَّةِ اللهِ، فَإِنْ وَقَعَ عَلىَ الْغَيْرِ وَاحْتَقَرَهُ فَهُوَ الْكِبْرُ

“Ia adalah melihat kepada diri sendiri dengan pandangan kesempurnaan dan anggapan baik dengan melupakan anugerah Allah, dan jika hal itu berdampak pada orang lain, lalu dia merendahkannya, maka ia adalah sombong.”

Telah datang riwayat dari ‘Umar, bahwa dia berkata,إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ إِعْجَابُ الْمَرْءِ بِرَأْيِهِ، وَمَنْ قَالَ: أَنَا عَالِمٌ، فَهُوَ جَاهِلٌ. وَمَنْ قَالَ: أَنَا فِي الْجَنَّةِ فَهُوَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya perkara yang paling aku takutkan terhadap kalian adalah takjubnya seseorang terhadap pendapatnya. Dan barangsiapa mengatakan, ‘Aku adalah seorang alim’, maka dia adalah orang bodoh. Dan barangsiapa mengatakan aku di sorga, maka dia di neraka.” (diriwayatkan oleh Ibnu Hajar di dalam al-Mathaalib al-‘Aaliyah)

Dan ayat-ayat yang di dalamnya Allah melarang mentazkiyah (mensucikan) diri sendiri, maka diambil darinya peringatan terhadap rasa takjub terhadap diri sendiri, sebagaimana dikatakan oleh Abu as-Su’uud.

Allah ﷻ berfirman,فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٩٨

Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS. an-Nahl (16): 98)

Yang dimaksud dari ayat ini adalah agar manusia beristi’adzah (meminta perlindungan kepada Allah) dari syaithan sebelum membaca al-Qur`an. Maka maknanya adalah, ‘Jika Engkau hendak membaca al-Qur`an.’ Dan yang demikian juga tidak menghalangi maknanya adalah beristi’adzah dari syaitan setelah membaca al-Qur`an, sebagaimana yang dikatakan oleh ar-Raziy([1]); agar tidak sesuatupun dari rasa ujub yang menerobos ke jiwa.

Dan termasuk diantara karakteristik para salaf adalah merendahkan diri dan menghinakannya, maka ini adalah suatu bentuk dari sikap tawadhu’ yang dicintai oleh Allah.

Di dalam as-Shahihain –dalam kisah ifk (pembebasan diri ibunda ‘Aisyah dari tuduhan zina)-, ‘Aisyah berkata,وكنت أَعْلَمُ أَنِّي بَرِيئَةٌ، وَأَنَّ اللَّهَ مُبَرِّئِي بِبَرَاءَتِي، وَلَكِنْ وَاللَّهِ مَا كُنْتُ أَظُنُّ أَنَّ اللَّهَ مُنْزِلٌ فِي شَأْنِي وَحْيًا يُتْلَى، وَلَشَأْنِي فِي نَفْسِي كَانَ أَحْقَرَ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ اللَّهُ فِيَّ بِأَمْرٍ يُتْلَى، وَلَكِنْ كُنْتُ أَرْجُو أَنْ يَرَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي النَّوْمِ رُؤْيَا يُبَرِّئُنِي اللَّهُ بِهَا

“Dulu aku tahu bahwa aku berlepas diri (dari tuduhan itu), dan bahwa Allah akan membersihan diriku dengan berlepasnya diriku (dari tuduhan itu). Akan tetapi, demi Allah, tidaklah aku menyangka bahwa Allah akan menurunkan sebuah wahyu yang akan dibaca tentang urusanku. Dan sungguh urusanku pada diriku adalah lebih rendah daripada firman Allah ﷻ tentangku dengan suatu perkara yang dibaca. Akan tetapi dulu aku berharap agar Rasulullah ﷺ melihat mimpi di dalam tidur yang dengannya Allah membersihkan diriku (dari tuduhan itu)”

Dia itu siapa? Dialah yang Allah telah bertasbih mensucikan diri-Nya tatkala manusia menuduhnya (dengan tuduhan keji),وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ قُلۡتُم مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبۡحَٰنَكَ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ عَظِيمٞ ١٦

Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah Dusta yang besar.” (QS. an-Nuur (24): 16)

Dan tatkala Bakr bin ‘Abdillah al-Muzaniy melihat manusia di ‘Arafah, dia berkata,لَوْلاَ أَنَا فِيْهِمْ لَقُلْتُ: قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُمْ

“Seandainya aku tidak ada di tengah mereka, maka pastilah aku akan berkata, ‘Sungguh Allah telah mengampuni mereka.” Padahal siapakah dia?

Maka selayaknyalah lisan spontanitas seorang mukmin adalah, ‘Siapakah yang lebih layak dengan api neraka daripada diriku?’ Sesungguhnya seorang mukmin itu mengumpulkan perbuatan baik dan rasa takut, sementara orang munafik mengumpulkan perbuatan buruk, dan rasa aman.

Sungguh ‘Umar bin al-Khaththab pernah melihat kepada Ubay bin Ka’b I sementara manusia bersamanya (berjalan di belakang Ubay bin Ka’b), lalu ‘Umar memukulnya dengan cemeti. Lalu Ubay bin Ka’b berkata, ‘Wahai Amiirul mukminiin, apa yang Anda lakukan?’ Maka dia menjawab,[arabic-font]«إِنَّهَا فِتْنَةٌ لِلْمَتْبُوعِ، وَمَذَلَّةٌ لِلتَّابِعِ»[/arabic-font]

‘Ia adalah fitnah bagi orang yang diikuti, dan kehinaan bagi yang mengikuti.’

Disebutkan di dalam atsar,[arabic-font]إِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ مِنَ الْخُيَلاَءِ[/arabic-font]

“Takjubnya seseorang terhadap dirinya sendiri adalah termasuk bagian dari kesombongan.”

Dan setiap orang yang melihat dirinya memiliki keutamaan atas manusia, maka dia memiliki satu bagian dari ‘ujub, wal’iyaadzu billah.

Oleh karena itulah, tawadhu’ ditafsirkan dengan ucapan mereka,أَنْ لاَ تَرَى أَحَداً إِلاَّ وَظَنَنْتَ أَنَّ لَهُ عَلَيْكَ فَضْلاً

“Engkau tidak melihat seorangpun melainkan Engkau menyangka bahwa dia memiliki keutamaan diatasmu.”

Di dalam Syarah Ibnu Baththaal, Mutharrif  berkata,لِأَنْ أَبِيْتَ نَائِمًا وَأُصْبِحَ نَادِمًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَبِيْتَ قَائِمًا وَأُصْبِحَ مُعْجَبًا

“Sungguh aku menginap di malam hari dalam keadaan tidur, lalu dipagi hari menjadi orang yang menyesal lebih aku sukai daripada aku menginap di malam hari dalam keadaan berdiri (shalat) lalu di pagi hari menjadi orang takjub (terhadap diri sendiri).”

Dan dikatakan,أَوْحَى اللهُ تَعَالىَ إِلىَ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ: (يَا دَاوُدُ، كَانَتْ تِلْكَ الزَّلَّةُ مُبَارَكَةً عَلَيْكَ)! فَقَالَ: يَا رَبِّ وَكَيْفَ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: (إِنَّ أَنِيْنَ الْمُذْنِبِيْنَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ زَجَلِ –صَوْتِ- الْمُسَبِّحِيْنَ)

“Allah ﷻ mewahyukan kepada Dawud , ‘Wahai Dawud, ketergelinciran tersebut mendatangkan keberkahan bagimu.’ Maka dia menjawab, ‘Wahai Tuhanku, bagaimanakah hal itu?’ Maka Dia berfirman, ‘Sesungguhnya rintihan orang yang berbuat dosa, lebih aku sukai daripada suaranya orang yang bertasbih.’

sumber: https://www.attabiin.com/tiga-perkara-yang-membinasakan-1-bakhil/