Muncul tagar #MenagRasaKomunis untuk menyebut keputusan pemerintah untuk menutup tempat-tempat ibadah dalam masa-masa genting PPKM Mikro sebagai keputusan jahat yang dilakukan untuk menyerang atau melemahkan umat Islam. Umat Islam yang mayoritas di negeri ini akan dibuat lemah iman dengan adanya penutupan rumah ibadah dan pelarangan peniadaan sholat Idul Adha di masjid dan takbiran.

Padahal, anda tahu, keputusan penutupan tempat ibadah dan Idul Adha  merupakan salah satu cara untuk menghalau kian masifinya penyebaran covid-19.  Namun, tagar itu seolah tidak peduli kondisi yang mengenaskan ini, akun-akun ini terus mengoceh dengan pelbagai twit yang isinya cuma satu nada: penutupan masjid adalah ulah komunis, pelarangan sholat idul Adha di masjid adalah cara komunis dan komunis itu bernama Menteri Agama RI saat ini a.ka Gus Yaqut.

Narasi-narasi ini disertai dengan foto, narasi dan pelbagai umpatan yang tidak jelas. Tidak jelas karena sumbernya juga tidak karuan bentuknya. Ada akun dengan nama palsu, akun dengan nomor dan bahkan akun-akun yang tampaknya baru dibikin.

Mari kita telusuri ini:

Satu hal yang perlu dicermati adalah, tagar ini muncul tidak begitu saja. Ada yang mendesain dan mereka pastinya orang yang membencinya keputusan-keputusan yang sebetulnya begitu baik ini. Siapakah mereka? Entahlah. Perlu penelusuran lebih lanjut.

Satu hal yang pasti. Kita tidak bisa gampang menuduh mereka adalah oposisi pemerintah maupun label-label tidak jelas seperti Kadrun, Kampret maupun yang lain. Hal ini akan membuat kita tidak hanya terjerambab pada satu labelling tertentu, tapi membuat kita akan menggampangkan narasi ini.

Saya lebih senang menyebut ini, meminjam istilah Cherian George, sebagai salah satu bentuk hatespin (pemelintiran isu). Hatespin ini pada level kecil tentu hanya seperti teriakan di tengah konser belaka, mungkin nyaris tidak terdengar dan hanya sayup-sayup di tengah riuhnya dentuman musik. Tapi jika terus menerus diproduksi maka akan senantiasa membesar dan pada level tertentu akan dengan mudah membakar orang-orang yang berada dalam kerumunan.

Hatespin di level #MenagRasaKomunis ini sudah memiliki beberapa unsur seperti hoaks, disinformasi dan manipulasi. Misalnya, dalam salah satu cuit menyebut narasi ini sebagai ini ulah-ulah keturunan komunis atau Cuma komunis yang bisa tega membunuh umat Islam dan menutup masjid, melarang takbiran, Idul Adha dan sejenis-sejenisnya.

Hoaks dan disinformasi. Satu hal yang sangat kelihatan adalah, hoaks adalah berita/informasi yang memang sengaja dibikin dan di kasus narasi ini, hoaks yang sengaja dibikin tertempel kata komunis. Sedangkan disinformasi sebagai bentuk informasi yang salah tapi tetap digunakan dan paling kelihatan adalah penempatan komunis dan upaya untuk membunuh umat Islam. Kita bisa mengajukan beberapa pertanyaan sederhana: memangnya komunis beneran akan menghancurkan umat Islam? Apa buktinya? Apakah Gus Yaqut a.ka Menteri Agama itu komunis? Komunis dari mana?

Jika menyadari bahwa hal-hal ini tidak mendasar. Kita bisa dengan sederhana ini tidak memercayainya. Tapi mengingat kita berada di era orang lebih percaya ‘katanya’ atau ‘dari teman’ dibanding data dan fakta, maka kita mungkin akan hanya bisa tertawa.

Apakah platform seperti twitter juga perlu bertanggung jawab? Kita bisa berdebat soal itu. Satu hal yang pasti. Twitter menyebut peristiwa seperti ini bisa jadi ulah BOT atau robot.  Yoel Roeth, Head of Site Integrity dari Twitter menyebut ini sebagai masala series. bot adalah akun yang bertindak secara otomatis — tidak lebih, tidak kurang,” tulis Yoel yang juga merupakan PhD dari Annenberg School. 

Ia lebih lanjut menjelaskan, efek robot-robot ini untuk memanipulasi orang, memanipulasi sistem dengen percakapan-percakapan.  Percekapan-percakapan yang tidal jelas dan jelas bentuk disinformasi. Di kasus dagar ini, kita bisa menyebut dengan jelas: robot ini berusaha utuk memanipulasi umat Islam.

Aktivitas robot yang berusaha memanipulasi mat Islam ini jells illegal.  Narasi seperti #MenagRasaKomunis ini jelas perlu ditindak apalagi terbukti membuat resah dan tidak mendukung upaya menghentukan laju penanganan covid.

Saya mengutip langsung dari twitter terkait Bot ini:

Jadi, apa saja hal-hal yang tidak diperbolehkan?

  • Penggunaan otomatisasi berbahaya untuk merusak dan mengganggu percakapan publik, seperti mencoba untuk menjadikan suatu topik menjadi trending
  • Amplifikasi percakapan buatan di Twitter, termasuk pembuatan banyak akun untuk tujuan khusus atau akun yang tumpang tindih
  • Membuat, meminta, atau membeli engagement palsu
  • Berinteraksi secara massal atau bercuit, berinteraksi, dan mengikuti akun lain dengan agresif
  • Menggunakan tagar secara spammy, termasuk menggunakan tagar yang tidak relevan dalam sebuah cuitan (biasa disebut dengan “hashtag cramming”)

Nah, dari sini, mungkin kita sebagai umat Islam bisa melihat dengan lebih jernih lagi bahwa ajakan atau tagar seperti #MenagRasaKomunis atau apa pun yang sejenis ini nanti adalah bentuk kebohongan yang dilakukan oleh orang-orang tirai bertanggung jawab. Sudah selayaknya kita menolak informasi ini dan mengabarkan ke publik yang lebih umat agar kita tidak menjadi muslim yang terkena jebakan manipulasi yang justru membuat kita kehilangan akal sehat.