Ukhuwah Islamiyah diserukan besar-besaran saat umat Muslim mengalami ketidakadilan. Akankah Muslim juga berkomitmen untuk isu-isu internasional yang lebih universal?

Kebijakan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan yang mengalihfungsikan museum Hagia Sophia menjadi masjid disambut dengan semarak oleh umat Islam di negeri kita. Kebijakan itu di-husnudzan-i sebagai tanda-tanda kebangkitan Islam di wilayah pertemuan dunia Barat dan Timur tersebut.

Sayangnya, kita tidak bisa menerima klaim-klaim kebangkitan Islam itu begitu saja. Kita masih perlu mengoreksi ulang pijakan Erdogan yang hendak menjadikan Turki Utsmani menjadi rujukan peradaban Islam ke depan. Sebab, hal itu masih terbelenggu dengan problem primordialisme yang pada substansinya berbenturan dengan spirit Islam sebagai agama yang merahmati semesta alam (rahmatan lil alamin).

Kembali kepada persoalan betapa gegap-gempitanya kaum Muslim kita dalam menyambut kebijakan Erdogan yang bernuansa primordialis itu. Pada dasarnya, sikap antusiasme umat Islam (terutama di Indonesia) terhadap isu-isu Internasional seperti kasus Hagia Sophia itu juga sering tampak dalam merespon persoalan-persoalan internasional lainnya. Misalnya, kasus Rohingnya, Uyghur, dan Palestina atas nama ukhuwah Islamiyah.

Namun, sayangnya, berbagai persoalan internasional yang dimana umat Islam turut serta melakukan solidaritas, masihlah berkaitan dengan isu-isu internal umat Islam. Umat Islam kita belum berani keluar menuju persoalan yang sifatnya lebih universal yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Problem eksklusivisme dalam keberpihakan di isu internasional ini sebenarnya berangkat dari masalah paradigma dalam berislam sendiri yang belum tuntas. Paradigma ini biasanya melihat berbagai persoalan di dunia ini dalam kerangka identitas kelompok sebagai sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah).

Padahal, dalam Islam sendiri ada konsep ukhuwah lain yang sebetulnya bisa kita jadikan rujukan dalam bersolidaritas dengan isu-isu internasional, yakni ukhuwah insaniyah/basyariyah (persaudaraan dalam kemanusiaan). Dalam berukhuwah insaniyah ini kita tidak dibatasi oleh garis identitas sebagai Muslim saja. Ia memiliki cakupan concern yang luas. Patokannya adalah selama yang menjadi korban dalam sebuah peristiwa ketidakadilan itu manusia, maka bersolidaritas adalah wajib hukumnya.

Ada banyak kasus ketidakadilan di kancah internasional yang secara tidak langsung terkait dengan Islam, namun terkait dengan isu kemanusiaan yang menjadi concern agama Islam. Misalnya, kasus rasisme terhadap George Floyd yang kemudian memunculkan gerakan global “Black Lives Matter” yang memprotes rasisme terhadap kulit hitam di Amerika Serikat dan dunia pada umumnya.

Solidaritas terhadap isu rasisme yang menimpa Floyd itu jika dilihat sekilas memang tidaklah terkait dengan eksistensi kaum Muslim di Amerika ataupun di Barat secara umum. Namun, jika kita mau memahami dinamika rasisme di Amerika maupun di negeri-negeri Barat lainnya, rasisme sebenarnya juga menimpa kaum Muslim sendiri, seperti yang tampak pada maraknya fenomena Islamophobia dan diskriminasi terhadap imigran dari negara mayoritas Muslim.

Islamophobia di Barat belakangan semakin besar eskalasinya, diperkuat oleh banyaknya kasus terorisme yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslim di Barat. Peristiwa terbesarnya adalah peledakan Gedung World Trade Center (WTC) tahun 2001 oleh kelompok Al-Qaeda pimpinan Usamah bin Laden.

Terlebih lagi, beberapa tahun yang lalu kemunculan gerakan terorisme Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) juga semakin memperburuk citra Islam di Barat. Dampaknya adalah ada persepsi yang gebyah-uyah (simplifikasi) bahwa semua orang Muslim adalah teroris di Barat.

Nah, isu Islamophobia di Barat itu punya keterkaitan dengan isu rasisme terhadap kelompok kulit hitam. Sebab, aktor yang paling dominan dalam kasus rasisme di Barat adalah warga kulit putih asli Eropa. Mereka menganggap diri sebagai kelompok manusia yang paling modern dan beradab dengan menganggap kelompok lain sebagai kalangan yang barbar dan dekaden.

Aktor-aktor paling ekstrem dalam kasus rasisme itu di Barat dikenal dengan gerakan White Supermacist (supermasi kulit putih). Mereka menolak kehadiran dari kelompok-kelompok lain di luar ras kulit putih mereka untuk hidup di Barat.

Bahkan, belakangan ini mereka menjadikan para pengungsi dan imigran yang berkulit gelap, kelompok LGBT, dan kelompok-kelompok minoritas lain sebagai kambing hitam terhadap situasi suramnya pertumbuhan ekonomi di sebagian besar dunia Barat.

Dalam konteks situasi yang seperti itu, selain pentingnya melakukan perubahan citra Islam di panggung internasional. Dari yang asyik sendiri dengan solidaritas internal sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah) menuju kepada concern yang lebih luas, yang mampu dirasakan oleh warga global. Dengan demikian, menjadi penting untuk turut serta terlibat dalam solidaritas terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan internasional. Solidaritas itu sejalan dengan spirit ukhuwah insaniyah dalam Islam.

Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here