Perempuan dalam wacana perlawanannya dapat kita kategorikan pada dua hal ini yaitu melawan dominasi patriarkis, dan pembelaan atas hak-haknya. Salah satunya dalam perihal bekerja. Islam hadir yang merupakan rahmat bagi sekalian alam. Artinya rahmat bagi setiap makhluk di alam ini, bukan khusus untuk laki-laki atau pula perempuan saja. Dalam Islam hak-hak perempuan sudah dikodifikasi lewat wahyu serta hadis nabi. Oleh karena itu para perempuan di zaman nabi juga mempunyai peran penting dalam penyebaran Islam.

Salah satu sahabat perempuan di zaman nabi yang memiliki peran penting adalah Ummu Aiman, atau yang bernama Barakah bin Tsa’labah berasal dari Habasyah. Ia merupakan ibu kedua setelah ibu kandung nabi, pengasuh nabi yang sampai nanti keturunannya sangat dicintai nabi.

Setelah melahirkan Muhammad SAW, Aminah ingin mengunjungi makam suaminya. Ia berangkat bersama anaknya dan Ummu Aiman. Setelah beberapa waktu mereka kembali ke Mekkah, akan tetapi di tengah perjalanan Aminah sakit dan meninggal dunia. Sehingga Ummu Aiman mengambil peran sebagai pengasuh. Ia pulang membawa Muhammad SAW dan mengasuhnya dengan kasih sayang yang tulus sampai dewasa.

Ummu Aiman mengasuh Muhammad SAW hingga dewasa, dan setelah Muhammad SAW menikah dengan Khadijah ia memerdekakan Ummu Aiman. Setelah merdeka ia dinikahi oleh suami pertamanya yaitu Ubaid bin Harits al-khajraji mereka mempunyai anak bernama Aiman.

Kemudian pada gilirannya Aiman ikut berjihad pada masanya, bersama para pejuang yang lain dan syahid dalam perang, oleh itu Barakah diberi kuniah atau nama panggilan Ummu Aiman. Lalu pada masa-masa datangnya kenabian Ummu Aiman dinikahi Zaid bin Haritsah, pernikahan mereka juga dikaruniai anak bernama Usamah bin Zaid.

Salah Satu Angkatan Perempuan Pertama Hijrah

Ketika gejolak yang terjadi di Mekkah semakin memanas, nabi beserta sahabat akhirnya berhijrah ke Madinah. Salah satu dari kaum Muhajirin perempuan tersebut ialah Ummu Aiman. Saat hijrah tersebut Ummu Aiman sedang berpuasa sehingga ia tidak membawa bekal apapun. Lalu di tengah jalan ia merasa haus dan letih, tiba-tiba segayung air dengan tali putih turun (air samawi). Setelah meminum air tersebut ia berkata, “Setelah ini aku tidak merasa haus lagi”.

Veteran Perang

Ummu Aiman, di usianya yang terbilang tua ia tetap setia ikut berjihad bersama nabi. Semangat juang yang tak pernah pudar, optimis terhadap kemenangan Islam. Beberapa peperangan yang diikuti oleh Ummu Aiman yaitu; Pertama, perang Uhud. Dalam perang ini ia bersama perempuan lainnya membantu mengobati korban perang dan memberi minum pasukan muslim yang kehausan. Tidak hanya itu, ia juga membantu melawan kaum musyrikin saat sebagian sahabat mengalami kekalahan. Ummu Aiman melempari wajah musuh dengan tanah seraya berkata “ambil alat pemintal ini dan berikan pedang kalian padaku”. Setelah itu ia juga mencari nabi untuk memastikan nabi baik-baik saja.

Kedua, perang Khaibar. Dalam peperangan ini ia juga turun tangan dengan segala kemampuan yang ia punya. Ketiga, perang Mu’tah. Dalam perang ini Ummu Aiman kehilangan suaminya yakni Zaid bin Haritsah. Saat mendengar berita kematian suaminya itu ia berbesar hati dan mengharap ridha-Nya. Keempat, perang Hunain, Ummu Aiman masih ikut serta dalam memperjuangkan Islam. Ia turut serta bersama kedua anaknya. Pada perang ini ia juga harus berlapang dada lagi mendengar anaknya yaitu Aiman syahid di medan perang.

Kontribusi dalam Bidang Seni

Meski syairnya tak seindah penyair masyhur seperti Khansa binti Amr namun bait-bait dalam syairnya tetap dihargai oleh nabi. Salah satu syair dari Ummu Aiman yaitu bait-bait ratapan atas meninggalnya nabi.

Duhai mataku! Bermurah hatilah, karena yang bisa kau berikan adalah derai air mata.

Kala mereka berkata “Rasul telah tiada”

Kami menangisi seseorang yang dikaruniakan kepada kami di dunia

Dan sosok yang diistimewakan dengan wahyu langit

Dengan derai air mata nan deras mengalir karena kepergianmu

Hingga Allah berikan putusan terbaik padamu

Ia rajin menyambung tali kekeluargaan seperti yang aku tahu

Ia datang dengan membawa cahaya sebagai rahmat

Setelah itu, ia menjadi sinar terang

Dan lentera yang menerangi di tengah kegelapan

Asal usulmu begitu baik

Dan tandamu adalah penutup para nabi.

Melihat kontribusi Ummu Aiman tersebut dapat kita simpulkan bahwa nyaris tidak ada perbedaan jenis kelamin dalam hal pekerjaan di masa nabi. Nabi tidak melarang para sahabiyah untuk melakukan beragam bentuk pekerjaan seperti perawat, suster, guru, tentara, bertani, dan berdagang. Dalam Islam hukum bekerja itu wajib ain bagi setiap muslim baik itu perempuan atau laki-laki. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin oleh itu esensi ajarannya ialah kesetaraan. Bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban yang harus ditunaikan dan mendapatkan haknnya masing-masing.

referensi:

-Mahmud Al-Mishri Abu Ammar, Biografi 35 Sahabiyah Nabi, terj. Umar Mujtahid, Jakarta: Ummul Qura, 2014.

-Taufik Munir, “Peran Aktif Perempuan Muslim” Muwazah, Vol. 6, No. 1, Juli 2014

-Amiroh Ambarwati, “Tenaga Kerja Wanita Dalam Perspektif Islam” Muwazah, Vol. 1, No. 2, Juli – Desember 2009

 

Artikel ini kerjasama Islamidotco dengan Rumah KitaB

Baca juga tulisan lain tentang muslimah bekerja