“Mengingat keterlambatan diri tuk sampaikan isi hati. Mata menangis dan kepala menunduk, diam sendirian bertemankan sepi. Berupaya tuk tegar tapi tak bisa. Berusaha tuk ikut dalam suka namun duka yang terasa. Tubuh lemah tak berdaya saat membaca namamu dan namanya. Undangan pernikahan itu bagai sembilu yang menyobek rongga dadaku.

Aku yang dulu acuh dengan agama, tak perduli dengan shalat, dan tak ambil pusing dengan pakaian yang terbuka, kau hadir dalam kehidupan mengawali sebuah perubahan. Banyak kenangan yang tak mudah tuk dilupakan. Arti perjuangan yang kau tanamkan masih mengakar kuat dalam ingatan.

Hari-hari kulalui tuk memperbaiki diri. Walaupun sibuk dengan kuliah, aku sempatkan tuk belajar memasak, berlatih menata rumah, berusaha menutup aurat dengan baik dan mengikuti kajian-kajian agama. Ayat demi ayat Al-Qur’an kucoba hafalkan sembari menanti kedatangan sosok yang kuimpikan. Dalam tahajud dan sujudku selalu teriring doa untuk ayah dari anak-anakku. Aku berharap tuk menjadi pendampingmu.

Tapi, harapan itu tinggal harapan. Undangan pernikahan telah menghancurkan bangunan impian.”

Untukmu yang tersiksa karena cinta,

1. Bersedih boleh, menangis juga tak mengapa, itu tandanya kita masih manusia. Tapi ingat, jangan sampai berlanjut kepada sikap tak ridha dengan takdir dan keputusan Allah taala. Ayo bangkit dan bersyukurlah karena Allah selalu memberi yang terbaik.

2. Waktunya untuk mengecek niat di hati. Mengapa melakukan perbuatan A dan untuk siapa melakukannya? Menutup aurat dan semangat belajar agama; mungkin dulu belum sepenuhnya karena Allah, inilah saatnya tuk memperbaiki diri. Semoga kita bisa ikhlas karena Allah semata.

3. Mintalah yang terbaik. Kalau dia memang baik untukku dan agamaku, mudahkanlah ia untukku ya Allah. Kalau dia bukan yang terbaik, berikanlah aku yang lebih baik ya Allah. Lebih tenangkan?

Jangan sedih kalau belum bisa bersanding dengan orang yang kamu sebut namanya dalam doamu, mungkin ini adalah awal pertemuanmu dengan dia yang banyak menyebut namamu dalam doanya.

Penulis : Muhammad Abu Rivai

sumber: https://muslimplus.or.id/2016/02/06/untukmu-yang-tersiksa-karena-cinta/