Istirahatkan Dirimu dari Kesibukan Duniawi, judul buku ini mengingatkan kita kepada ungkapan hikmah yang ada dalam kitab al-Hikam; Arih nafsaka minat tadbir, fama qama bihi ghairuka ‘anka la taqum bihi linafsika. Padahal, buku ini diambil dari Kitab at-Tanwir fi Isqathit Tadbir, yang memiliki arti Jalan Terang untuk Menggugurkan Sikap Ikut Campur. Lantas, apa hubungan antara keduanya?

Kealiman, kedalaman renungan spiritual, dan kekayaan pengalaman batin Ibnu Athaillah dapat mengungkapkan hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesama dan makhluk hidup lain di dunia. Allah mengatur setiap manusia untuk tunduk dan patuh terhadap ketetapan-Nya. Manusia memiliki kesempatan untuk merencanakan segala sesuatu yang diperbuatnya, tapi Allah-lah yang menentukan dan yang mengatur segala macam urusan hamba-Nya.

Konsep kepasrahan total kepada Allah yang diintroduksi oleh Ibnu Athaillah merupakan tema utama di dalam buku ini. Bentuk dari sikap berserah diri dan tunduk pada ketentuan-Nya, yaitu manusia menyerahkan kendalinya kepada Allah dari apa yang diperbuat-Nya sehingga mereka bisa keluar dari pengingkaran (terhadap takdir) dan keras kepala. Namun, konsep berserah diri dan pasrah milik Ibnu Atha’illah akan memunculkan kesalahpahaman di sebagian pihak; bahwa Ibn Atha’illah menganut paham fatalisme (jabariyah) yang berujung pada kenaifan.

Melalui buku ini, Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pasrah dan berserah diri adalah manusia tidak perlu cemas dan khawatir dengan usaha yang telah dilakukan. Hubungan antara manusia dengan Allah harus ditegaskan dalam kehidupan manusia dengan keseimbangan antara ikhtiar yang rumit dengan tawakal yang melangit.

Kehidupan yang seimbang antara ikhtiar dan tawakal memiliki dampak baik, yaitu iman yang sejati dengan menjadikan Allah swt. dan Rasul-Nya sebagai hakim atas diri mereka, baik dalam perkataan maupun perbuatan, dalam melakukan maupun meninggalkan perbuatan, dalam mencintai maupun membenci, serta mencakup seluruh beban syariat (perintah dan larangan).

Hal itu ditekankan dalam QS. an-Nisâ` [4]: 65 “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” Begitu juga, hadis nabi yang dimuat dalam Shahih Muslim, “Akan merasakan kelezatan iman, orang yang ridha menjadikan Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta Muhammad sebagai Rasulnya.”

Ayat dan hadis di atas memiliki pesan penting, bahwa laku hidup manusia tidak selamanya berjalan mulus sesuai dengan kehendak. Adakalanya seseorang harus menghadapi kesulitan dalam hidup sehingga membuatnya sedih dan sengsara. Adakalanya seseorang menghadapi kemudahan dalam hidup sehingga membuatnya bahagia dan sejahtera. Manusia yang meninggalkan sikap ikut campur urusan dan ketentuan Allah memiliki ketenangan jiwa dan terhindar dari rasa cemas terhadap apa yang akan terjadi terhadap dirinya pada masa mendatang.

Perintah dan ketentuan Allah merupakan sebuah keniscayaan yang harus dihadapi oleh setiap manusia. Perintah Allah merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan dan ketentuan-Nya harus diterima oleh hamba-Nya. Pelaksanaan perintah Allah akan terasa melelahkan jika dilaksanakan begitu saja, tanpa mengetahui tujuan dan kasih sayang di balik perintah dan ketentuan-Nya.

Menurut Ibnu Atha’illah, perintah dan ketentuan yang diturunkan kepada hamba-Nya akan menjadi penguat dan penghias dengan pancaran cahaya dari sifat-Nya. Dengan melaksanakan kewajiban, manusia akan bergantung dan bersandar kepada-Nya ketika menerima ketentuan-Nya. Manusia akan mampu bertahan dengan sabar menghadapi rintangan hidup dan ketentuan yang digariskan untuk hidupnya.

Pada dasarnya, manusia harus senantiasa menghadirkan Allah melalui proses intuisi dalam setiap usaha yang dilakukan. Jiwa yang tidak lelah dan hati yang tenang merupakan tujuan setiap manusia agar dapat berusaha secara optimal dan beribadah secara maksimal.

Dari segi isi, buku ini berisi puluhan, ratusan, bahkan ribuan untaian hikmah yang merupakan hasil permenungan atau pengalaman spiritual syekh Ibnu Athaillah. Berbeda dengan karyanya yang masyhur, al-Hikam, maka buku ini rindang dengan kutipan teks al-Qur’an, hadis, dan syair dari kaum ‘arifin (para bijak bestari) yang tentunya menggugah jiwa.

Sama seperti guru-gurunya yang mengajarkan tasawuf akhlaqi, buku ini memperlihatkan kepada para pembacanya, bahwa Ibnu Atha’illah memadukan antara syariat dan hakikat, ikhtiar (usaha) dan tawakal (pasrah), serta dunia dan akhirat. Hal ini dapat ditemukan dalam pembahasan seputar dimensi rezeki dan bekerja/usaha.

Meskipun Allah telah menetapkan rezeki untuk makhluk-Nya, tapi manusia masih harus tetap berusaha untuk mendapatkan penghidupan duniawi karena ketidaktahuan mereka atas rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah. Hikmah semacam ini banyak diuraikan di dalam buku ini secara terperinci.

Dengan demikian, buku ini mengantarkan para pembacanya untuk dapat menyeimbangkan hidup dari usaha yang dilakukan dan pasrah terhadap ketentuan Allah. Usaha untuk mengejar duniawi yang melelahkan akan menjadi nikmat ketika aturan dan rencana Allah diposisikan lebih utama dibandingkan rencana yang disusun oleh manusia.

Judul Buku: Istirahatkan Dirimu Dari Kesibukan Duniawi

(Terjemah Al-Tanwir fi Isqati At-Tadbir)

Pengarang: Ibnu Athaillah as-Sakandari

Penerjemah: Zulfahani Hasyim, Lc.

Penerbit: Turos Pustaka

Tahun: 2021

Tebal: 428 halaman

ISBN: 978-623-7327-57-8

*Artikel ini hasil kerjasama Islami.co dan Celengan Pemuda Tersesat. Anda juga bisa klik di Kitabisa untuk tahu aktivitas dan ikut serta menjadi bagi gerakan kampanye ini