Dalam presentasi di tempat lain, saya meringkas negara saya, Nigeria, dengan kata-kata berikut: 

Sejak kelahirannya sebagai negara yang independen, Nigeria tetap menjadi negara yang penuh perubahan (volatile). Rumah bagi lebih dari 200 juta orang, bersumber daya tinggi tetapi korup secara endemik, kombinasi dari langkah-langkah pemerintah yang salah parah, rentetan kudeta militer, maladministrasi menahun, kultur kekerasan yang menghambat negara yang seharusnya bisa menjadi salah satu negara terhebat di dunia. Keadaan tersebut membuat rakyatnya rentan terhadap kemiskinan, penyakit, kekerasan, dan kematian. Namun inilah teka-tekinya: di tengah-tengah segala hal ini, pada 2014, The World Value Survey menempatkan orang-orang Nigeria (Nigerians) sebagai rakyat paling bahagia di muka bumi.” 

Hari ini, kombinasi dari faktor terorisme lokal dan global telah mendorong negeri ini lebih dekat ke jurang. Setelah lebih dari 10 tahun melawan (battling) Boko Haram, pemberontakan, banditisme (banditry), dan kekerasan etno-religius (ethno-religious violence), rakyat kami yang lelah tenggelam (absorbed) dalam keraguan. Kebahagiaan mereka dihantui awan gelap dan keputusasaan mendalam. 

Berita penculikan, perampokan bersenjata, penawanan untuk tebusan, pembunuhan serta pembantaian rakyat tak bersalah terjadi setiap hari. Tempat-tempat suci kami menjadi medan pembunuhan (killing grounds). Di seluruh negeri, ratusan orang yang sedang beribadah mengalami pembunuhan di dalam masjid-masjid dan gereja-gereja mereka. Dunia hanya mengedikkan bahu dan berjalan tanpa menengok dua kali, seolah-olah kawan kekerasan (cauldron of violence) di negara terpadat di Afrika ini tidak akan pernah mengganggu kenyamanan orang di tempat lain. 

Bertolak dari latar belakang tersebut, saya mengapresiasi konferensi R20 ini karena telah mengambil langkah historis untuk berbicara mengenai isu ini secara gamblang. Saya secara khusus memuji tujuannya, yaitu “mencegah penggunaan identitas agama sebagai senjata dan melawan penyebaran paham kebencian.”

Dalam realitas yang dihadapi begitu banyak orang saat ini, kebencian mendapat asupan dari senjatanisasi identitas, marginalisasi liyan, dan menciptakan kondisi dehumanisasi. Tanpa bisa ditahan, hal ini membawa kami ke jalan kelam yang menjustifikasi kekerasan dan pembunuhan. Saya berbicara seperti ini berdasarkan latar belakang negara saya sendiri. 

Kisah mengenai senjatanisasi agama di Nigeria dicirikan dengan manipulasi narasi sejarah antara umat Kristiani dengan umat Muslim dan menempatkan kelompok etnis vis a vis dengan satu sama lain. Kebanyakan Muslim di Nigeria Utara terus menerus menggaungkan sentimen dari kekhalifahan yang telah lalu (1804-1903) yang memandang Kekristenan sebagai agama asing, sekaligus menampik fakta bahwa Islam sendiri berasal dari semenanjung Arab. Mereka menganggap Islam sebagai agama Afrika karena umurnya yang telah relatif tua dan telah hadir di sebagian daerah Nigeria sejak abad ke-11.

Di Nigeria utara, elite Muslim cenderung memandang institusi negara modern sebagai pendudukan asing (alien imposition) yang berusaha menggantikan agama mereka dengan pendidikan barat yang memusuhi Islam (western education as a foreign enemy to Islam). Oleh karenanya, para elite Muslim menganggap konstitusi yang ada berikut hukum sekuler sebagai subordinat terhadap Islam. Dalam praktiknya, mereka mengabaikan hukum tertulis sesuai keinginan mereka. Petinggi Nigeria bahkan tidak dapat menemukan konsensus untuk mengatasi masalah utama dari kesakralan konstitusi. 

Akibatnya, hari ini umat Kristiani di Nigeria Utara terancam, baik secara fisik maupun sosial, bahkan di kota-kota besar. Tradisi dan sejarah Kristiani dilarang untuk diajarkan di sekolah-sekolah negeri, sementara dasar-dasar Islam merupakan mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah yang sama. 

Maka dari itu, kecuali yang sangat miskin, umat Kristiani tidak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri. Ada kalanya para murid mengeluh ditolak oleh universitas pilihan. Padahal mereka merupakan murid Kristiani yang layak. Dalam bidang pekerjaan dan promosi, bahkan umat Kristiani yang merupakan penduduk asli mengalami diskriminasi. Di saat yang sama, non-Muslim lain seringkali mendapat tawaran posisi di kantor layanan publik. Kondisi demikian menciptakan keraguan diri, ketakutan, dan kecemasan di kalangan anak-anak yang berbeda agama. 

Persekusi struktural terhadap umat Kristiani di Nigeria Utara ini diperparah dengan adanya kekerasan atas nama Islam yang meningkat dalam satu dekade terakhir. Ini merupakan sebuah bentuk kekerasan yang sekarang mengancam sebagian besar negara-negara Afrika. Kekerasan ini tampak di Nigeria dalam dua tahap yang berbeda. Pertama, kekerasan intra-agama seperti yang terjadi antara aliran yang berbeda dalam Islam, di antara Sunni, Syi’ah, Izala, Boko Haram, ISWAP (Negara Islam Provinsi Afrika Barat), dan lainnya. 

Kedua, kekerasan yang dilakukan oleh ekstrimis Muslim dengan target umat Kristiani atau infrastruktur mereka seperti gereja, pastoran, biara, sekolah, rumah sakit, bahkan sampai fasilitas publik seperti Pusat Pastoral. Penderitaan terbaru kami, Keuskupan Sokoto, adalah buntut dari pembunuhan Deborah Samuel secara beramai-ramai dan sangat brutal. Deborah Samuel merupakan seorang anak muda Kristiani yang dituduh melakukan penghinaan kemudian dibunuh di ruang publik, tepatnya di kampus pada 13 Mei tahun ini oleh teman-temannya yang Muslim setelah mengeluh tentang pengenalan agama secara paksa ke dalam kelompok studi. 

Jauh dari kecaman universal terhadap kejadian mengerikan ini, banyak ekstrimis Islam  mengelukan pembunuhan tersebut, mengklaim justifikasi atasnya, dan mengancam siapapun yang menuntut keadilan hukum terhadap para pelaku. Hal ini terjadi meskipun Gubernur Negara Bagian, Sultan dari Sokoto, mengecam tindakan ini, juga diri saya sendiri. 

Dengan adanya peningkatan ekstrimisme dalam Islam, terjadi peningkatan kasus penculikan dan penawanan pemimpin agama di seluruh negeri. Walaupun pernah terdapat kasus penculikan ulama Muslim yang sangat terang di beberapa bagian timur laut dan barat laut, penculikan terhadap pengurus gereja senior jauh lebih terang-terangan, ditargetkan, dan kejam. Dalam hal ini, salah satu pendeta dan seminaris Keuskupan Sokoto pernah dibunuh oleh bandit. Empat pendeta dan dua pastoral ditawan demi tebusan agar tidak banyak bicara pada orang awam. 

Mereka ditahan dalam durasi yang bervariasi, bergantung pada seberapa cepat uang tebusan dapat diberikan dan negosiasi dengan bandit dapat dicapai. Tebusan dalam jumlah besar diberikan demi memastikan pembebasan mereka. Institusi keamanan seringkali hanya menengok sekilas atau memberikan janji kosong. Inilah kekerasan yang kami hadapi sekarang, kekerasan yang merendahkan dan merampas kemuliaan kita sebagai manusia, baik Kristiani maupun Muslim. 

Maka izinkan saya membuat beberapa komentar khusus mengenai arah ke depan negara saya, negara lain di Afrika, dan dunia untuk kesimpulan.

Pertama, untuk kami di Afrika, infrastruktur negara yang lemah cenderung membuat pejabat publik melakukan korupsi dalam ukuran yang monumental. Nepotisme menjadi alat untuk melakukan korupsi besar-besaran. Di Afrika, ketika seorang politikus menampilkan dirinya sebagai seorang pemenang dari kelompok etnis atau agamanya, secara natural para suporter berekspektasi akan mendapat kekuasaan dari hasil memenangkan pemilihan untuk basis mereka sendiri. Eksploitasi ini menghalangi perkembangan demokrasi di sepanjang benua. 

Kedua, pemerintah harus mengembangkan kultur untuk dasar legal yang kuat untuk kewarganegaraan yang setara dengan konstitusi sebagai hukum tertinggi di negeri tersebut. Dalam keadaan seperti ini, warga yang tidak bersalah tidak akan kehilangan nyawa karena memiliki pandangan kultural atau agama yang bertentangan dengan hukum, atau mendapat kekebalan hukum setelah melakukan klaim palsu atas agama di saat kita tidak berada di negara teokrasi. 

Maka dari itu, di Nigeria maupun di tempat lain, tidak ada seorang pun yang bisa memiliki hak untuk mengambil nyawa atau melukai seseorang berdasarkan klaim ilahiah apapun. Hukuman tegas harus dijatuhkan pada mereka yang membunuh atas nama sentimen iman. Pemimpin agama dari agama yang diatasnamakan harus mendorong pihak berwenang untuk mengikuti hukum yang berlaku dan supaya tidak takut menjadi target dari ekstrimis. Sikap diam dalam kasus seperti ini akan dianggap sebagai afirmasi, baik disengaja maupun tidak.

Ketiga, saat ini kita semua terancam oleh keberadaan teroris yang menggunakan alasan etnis atau agama untuk menghancurkan kemanusiaan. Menghadapi Boko Haram, ISIS, maupun kelompok lain yang menggunakan etnis atau agama, kita harus berdiri di sisi yang sama dan bersikeras bahwa mencederai satu pihak sama saja dengan mencederai semua orang. Kita harus menerima bahwa kita merupakan warga dari satu negara bangsa dan tidak ada agama maupun etnis yang superior dibanding lainnya. 

Keempat, suatu program pendidikan yang komprehensif dan terintegrasi tetap menjadi penawar dari ekstrimisme. Tidak cukup jika pemimpin agama hanya terlibat dalam retorika moral atau “dialog” nir-makna yang bertujuan untuk sekedar menenangkan para pendonor, sementara membiarkan rakyat kami menjadi korban. 

Seperti yang saya lihat di Nigeria dan di tempat lain, korban pertama dari kekerasan berbasis ekstremisme agama adalah umat mereka sendiri. Dalam dunia kita hari ini, Muslim menjadi korban paling banyak. Di Nigeria Utara, mayoritas yang mati di tangan Boko Haram, ISWAP, bandit, atau penculik adalah Muslim. Seharusnya ini cukup untuk menjadi penanda bahwa masalah ini bukan masalah agama belaka, akan tetapi masalah kemanusiaan kita. 

Kita harus mengakui bahwa meskipun pembunuhan massal dari orang-orang beriman bukanlah kebijakan negara, tetap saja kita tidak dapat mengabaikan situasi di mana orang-orang di posisi tertinggi pemerintahan terlalu lamban merespons intensi genosida.

Sebagai penutup, saya sekali lagi memuji inisiatif ini. Namun, di luar kongres, kita harus mengembangkan program yang koheren mengenai nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang disepakati di mana kita semua dapat belajar dan menerima dari satu sama lain. 

Penyakit senjatanisasi agama ini mengancam kita semua. Sejarah menunjukkan bahwa kerajaan dan raja-raja memiliki masa jayanya. Dunia akan selalu dipenuhi oleh manusia yang memiliki delusi bahwa mereka diutus oleh Tuhan untuk menciptakan dunia baru dengan darah manusia sebagai harganya. 

Namun demikian, kita harus bekerja keras untuk menyembuhkan mereka dari delusi tersebut dengan cara membatasi ruang gerak mereka. Di sini, negera-negara berkembang tidak boleh hanya sekedar membubuhkan tanda tangan pada hukum internasional yang melindungi hak asasi manusia. Organisasi agama harus berkolaborasi dengan masyarakat sipil untuk membentuk dunia yang lebih adil untuk semua.

Menimbang pluralitas masyarakat kami, hubungan antara umat Kristiani dengan umat Muslim dapat menjadi lebih baik seandainya pemerintah menghindari diskriminasi terbuka yang dilakukan berdasarkan agama. Di saat keyakinan agama dan tradisi kita harus tetap menjadi sumber hukum, demokrasi yang sekuler harus fokus pada kelengkapan konstitusi. Pemimpin agama harus menghindari manipulasi identitas dan menganjurkan integrasi melalui pendidikan, kewarganegaraan yang setara, perkawinan campuran, serta ruang sosial lainnya yang ditetapkan oleh konstitusi kita. 

Keyakinan dasar mengenai kemuliaan manusia, juga kesakralan keluarga mengikat kita semua, yaitu setiap orang yang hadir hari ini. Menjadikan identitas sebagai senjata melalui rasa kemenangan atas agama dan etnis yang palsu dan penuh keraguan seperti yang dunia bisa lihat dalam apartheid, rasisme, nazisme, dan baru-baru ini, tragedi di Rwanda hanya mengerdilkan kemanusiaan kita. 

Senjatanisasi agama secara terus menerus di masyarakat kita yang plural hanya akan membuat progres yang mustahil, persatuan nasional yang sukar dicapai, dan kemajuan yang menjadi mimpi yang tertunda. Pemimpin dari agama-agama dunia harus bersatu untuk menghadapi sekularisme dan ekstremisme. Sebab, ada kecenderungan di mana keheningan kita saat terjadi perpecahan yang parah dalam masyarakat atas nama agama menawarkan kesempatan paling besar untuk masuknya ekstremisme. 

 

*Artikel ini merupakan salinan pidato Matthew Hassan Kukah di Forum Agama (R20), Nusa Dua, Bali pada tanggal 2-3 November 2022.