Ada dua istilah yang sering digunakan untuk menyebut keturunan Rasulullah di Indonesia: Sayyid dan Habib. Istilah Sayyid ini populer digunakan pada masa kolonial. Istilah Habib pada masa itu belum terlalu populer. Dalam cuitan twitternya, Ustadz Ahong menjelaskan dulu pernah terjadi perdebatan sengit antara keturunan Arab Hadramaut, atau Hadrami di Indonesia mengenai gelar sayyid tersebut.

Sebagian orang Arab Hadramaut yang masih memiliki jalur keturunan hingga ke Rasulullah menyatakan gelar itu khusus keturunan Nabi. Tapi keturunan Hadramaut lain yang tidak terverifikasi hingga ke Rasul, seperti pemilik marga Bakatsir, Ba’asyir, juga mengklaim demikian.

“Setelah Indonesia merdeka, istilah sayyid hampir jarang didengar. Sekarang kita lebih mengenal istilah habib daripada sayyid. Padahal gelar habib dulu itu khusus untuk keturunan Nabi yang akhlaknya mulia dan ilmunya bagai lautan.Tapi sekarang panggilan “habib” udah buat semua keturunan Nabi. Mau akhlaknya baik atau enggak, rata- rata santri-santri NU tetap manggil mereka habib,” Tegas Ustadz Ahong.

Tapi ada pesan dari ulama-ulama di pesantren, “Habib yang akhlak dan perilakunya gak baik itu tetap harus dihormati. Bahkan semua orang yang lebih tua dari kita itu tetap harus kita hormati.”

Peraih MAARIF Award itu menambahkan, “Kata Kiai saya, ‘Habib yang akhlaknya tidak baik itu bagaikan istri kita yang sedang haid. Dia tetap kita cintai, tapi tidak boleh kita gauli. Atau bagaikan Al-Qur’an rusak, tidak bisa dipakai, tapi kita tidak boleh buang ke tempat sampah.”

Terlepas dari itu, menurut Ustadz Ahong, Rasulullah pernah mengingatkan pada kita bahwa nanti di akhir zaman ada keturunan- keturunan beliau yang justru tak diakui oleh Rasulullah. Dari ‘Umair ibn Hani Al ‘Ansiy. Ia berkata: Aku mendengar ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata, “Pada suatu hari kami sedang duduk bersama Rasulullah. Beliau memberikan peringatan tentang fitnah-fitnah (ujian besar di akhir zaman) yang banyak bermunculan. Sampai beliau menyebutkan Fitnah Ahlas. Seseorang bertanya : “Wahai Rasulallah, apa yang dimaksud fitnah Ahlas? Beliau menjawab: “Yaitu; fitnah pelarian dan peperangan.”

Kemudian, Fitnah sarra’ (karena banyak bermegah-megahan hingga lupa dan jatuh dalam prilaku maksiat), yang asapnya dari bawah kaki seorang keturunanku; ia mengaku bagian dariku, padhal bukan dariku.Orang-orang yang aku kasihi hanyalah orang yang bertakwa.

“Jadi pesan saya, jangan kita pukul rata semua habib sama seperti habib tertentu yang kita tidak senangi akhlaknya. Sebagaimana kiai atau ulama, kiai ada yang baik akhlaknya, ada juga yang enggak. Begitupun habib”, Tegas Ustadz Ahong.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here