Bukan kali pertama vaksin dipermasalahkan. Kampanye anti vaksin selalu saja dikampanyekan segelintiran orang. Mirisnya, kampanye itu dilakukan para pendakwah. Alasannya pun terkadang tidak masuk akal dan sebatas asumsi. Dalam pengajiannya, seorang pendakwah akhir zaman atau ustadz akhir zaman menyebut vaksin sebagai salah satu cara kelompok elit untuk menguasai manusia. Dalam vaksin itu terdapat microchip yang bisa mengontrol manusia. Bahkan ustadz akhir zaman itu memaknai new normal sebagai new order, tatanan dunia baru yang dikuasai segelintir elit.

Ustadz Ahong dalam cuitannya menampik tuduhan ini. Menurutnya, asumsi ini perlu dibuktikan dan video pengajian itu perlu diluruskan. Sebab dalam situasi pandemi seperti ini vaksin memang sangat dibutuhkan. Rasa curiga berlebihan terhadap vaksin sangat tidak patut. Apalagi seluruh dunia saat ini sedang berusaha untuk menemukan vaksin yang bisa menyelamatkan nyawa manusia.

“Menurut saya, asumsi ini perlu dibuktikan, apa benar dalam vaksin itu ada microchip. Dalam situasi pandemi seperti ini, kita tidak perlu overthinking. Seluruh dunia sedang berusaha untuk mencari solusi terbaik, termasuk Indonesia,” Kata Ustadz Ahong.

Ustadz peraih Maarif Award ini menambahkan, di era pandemic seperti sekarang ini, kita harus saling percaya dan bahu membahu agar kita bisa atasi pandemic ini. Jangan sembarangan mengkritik kalau datanya tidak valid, apalagi hanya cocokologi. Apalagi terkait vaksin, MUI sudah mengeluarkan fatwa soal kehalalannya.

Dalam situasi darurat seperti ini, sebetulnya tidak perlu memperdebatkan apakah vaksin halal atau haram. Karena, yang haram sekalipun, kalau memang itu satu-satunya yang bisa mengobati dan menyelamatkan nyawa manusia, syariat tetap membolehkan.

Ustadz Ahong berharap agar para pendakwah yang gemar mengampanyekan akhir zaman berhenti untuk melakukan cocokologi. Tidak selamanya cocokologi itu benar. Malahan membuat masyarakat resah dan takut, bahkan dalam level tertentu tidak percaya pada solusi yang diberikan pemerintah.

*Jangan lupa follow akun Twitter Ustadz Ahong di sini