Sebuah video menunjukkan pasukan Israel menyerang petugas medis Palestina saat mengobati pengunjuk rasa yang terluka dalam ambulans. Kejadian itu berlangsung di Lembah Jordan pada selasa (24/11/2020). Dalam rekaman tersebut tentara Israel tampak ingin mengambil paksa seorang demonstran.

‘Ini adalah salah satu pelanggaran Israel yang terus berlangsung dan meningkat yang mengabaikan kehidupan manusia, dan hukum kemanusiaan internasional.”  tutur Mai al-Kaila, Menteri Kesehatan Palestina seperti dikutp Middleeye.

Al Kaila  juga menambahkan bahwa tim medis, ambulans, rumah sakit, dan pasien harus dilindungi setiap saat, dan tidak boleh terkena bahaya atau pelanggaran apa pun.

Rekaman video tersebut kemudian menjadi viral di media sosial Palestina. Laman middleeasteyenet. menulis bahwa pemuda pengunjuk rasa itu bernama Fadi al-Wahdan, 25 tahun. Ia mengatakan bahwa  ditembak jarak dekat dengan peluru karet oleh seorang tentara Israel selama demonstrasi kota Tayaseer di Lembah Jordan.

“Kemarin kami memutuskan untuk menggelar demonstrasi menentang ekspansi permukiman Israel di Lembah Jordan, dan penyitaan berkelanjutan atas tanah kami oleh pendudukan Israel,” ungkap al-Wahdan yang berprofesi sebagai petani.

Saat pengunjuk rasa sedang menuju ke dusun Khirbet Humsah yang dihancurkan pasukan Israel awal bulan ini mereka dikepung di dekat pos pemeriksaan militer.  “Ada ratusan dari kami melakukan protes damai ketika puluhan tentara Israel mulai menyerang kami, menembakkan gas air mata dan peluru karet ke arah kami,” katanya.

Di tengah keributan itu, al-Wahdan tertembak di perutnya sehingga membuatnya terjatuh ke tanah. “Teman saya yang berada di sebelah saya menjemput dan menyeret saya secepat yang dia bisa ke salah satu ambulans terdekat,” kata al-Wahdan, menambahkan bahwa dia pingsan karena rasa sakit.

Sepanjang sejarah pendudukan pasukan Israel beberapa kali menyerang petugas medis dan perwatan kesehatan Palestina di wilayah pendudukan. Bahkan pada tahun lalu PBB menyebut wilayah Palestina yang diduduki sebagai “salah satu tempat paling berbahaya di dunia bagi petugas kesehatan.”

Dalam laporan Medical Aid for Palestinians (MAP), kelompok tersebut mencatat 386 serangan terhadap pekerja Bulan Sabit Merah antara 2015 dan 2016, dan 158 luka pada petugas medis dan sukarelawan. Kelompok itu juga mencatat 123 insiden penolakan akses medis di pihak otoritas Israel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here