Kerajaan Arab Saudi menuai kontroversi di tengah upayanya untuk membuka diri di bidang industri pariwisata dan hiburan. Kerajaan pelindung dua kota suci Islam tersebut telah mengizinkan majalah Vogue Arabia untuk melakukan kampanye sesi pemotretan di situs sejarah Al-Ula, yang masuk dalam wilayah administratif provinsi Madinah. Sesi pemotretan tersebut mendapatkan sorotan karena mengundang supermodel internasional yang mengenakan pakaian terbuka, yang tidak sesuai syariat Islam.

Vogue Arabia, edisi Arab majalah mode terkemuka yang berbasis di AS, merilis sesi pemotretan 24 jam untuk label Mônot yang berbasis di New York. Sesi pemotretan tersebut sudah dirilis di laman situs majalah Vogue pada Senin (6/7).  Sesi pemotretan tersebut menampilkan para supermodel internasional seperti Kate Moss, Mariacarla Boscono, Candice Swanepoel, Jourdan Dunn, Amber Valletta, dan Xiao Wen.

Sesi pemotretan Vogue Arabia yang kontroversial tersebut adalah bagian dari serangkaian reformasi yang telah diterapkan oleh Kerajaan Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir. Reformasi tersebut demi membuka keran perekonomian dari industri pariwisata dan hiburan internasional.

Reformasi Arab Saudi meliputi pengurangan otoritas polisi syariah, pencabutan pembatasan dalam pencampuran gender dalam acara publik, dan pelonggaran persyaratan bagi perempuan untuk mengenakan abaya atau gaun longgar.

Reformasi ini merupakan bagian integral dari Visi Arab Saudi 2030 (Saudi Vision 2030), yang ingin mengurangi ketergantungan pemasukan dari sektor perdagangan minyak. Sehingga dalam beberapa tahun terakhir, Kerajaan Arab Saudi cukup getol membuka diri di bidang hiburan dan pariwisata. Termasuk dengan membuka bioskop pertama pada tahun 2018 dengan menayangkan film superhero Black Panther.

Majalah Vogue Arabia bukan kali pertama menuai kontroversi. Sebelumnya, pada edisi Juni tahun 2018, Vogue Arabia menampilkan gambar sampul Putri Hayfa binti Abdullah Al-Saud yang berpose menyetir di bangku kemudi sebuah mobil mewah.

 

Gambar sampul tersebut memicu kritik publik yang beranggapan majalah Vogue Arabia telah mengabaikan para aktivis perempuan yang telah memperjuangkan hak mengemudi bagi perempuan selama bertahun-tahun. Sementara sang putri ‘nangkring’ mengemudi di gambar sampul Vogue Arabia, masih banyak aktivis perempuan yang dipenjara untuk memperjuangkan hak menyetir. Di antaranya adalah Aziza al-Yousef dan Loujain Hathloul, yang masih dipenjara oleh otoritas Kerajaan saat sampul majalah tersebut diterbitkan.

Situs Al-Ula sendiri merupakan ibukota Lihyanites (Dedanites), yang telah ada lebih dari 2000 tahun yang lalu. Situs ini dipercaya sebagai tempat tinggal kaum Tsamud yang ingkar pada masa kenabian Nabi Saleh AS. Konon, mereka adalah kaum yang mempunyai budaya memahat tebing dan bebatuan sebagai tempat tinggal. Sehingga kompleks tersebut mewariskan situs arkeologi pra-Islam yang usianya ribuan tahun. Situs Al-Ula juga merupakan warisan dunia UNESCO, sehingga menjadi salah satu situs wisata yang diandalkan oleh pemerintah Kerajaan Arab Saudi untuk menarik wisatawan internasional.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here