Bagi Yenny Wahid, ekstremisme yang terjadi di belahan dunia saat ini perlu strategi yang jitu untuk diatasi. Salah satunya adalah jejaring global. 

JAKARTA–Intoleransi dan ekstremisme kekerasan masih terus menjadi ancaman di berbagai belahan dunia. Negara maupun organisasi masyarakat sipil perlu terus mengembangkan strategi yang efektif dan beradaptasi dengan situasi baru yang berkembang. Uni Emirat Arab (UEA) dan Indonesia sama-sama memiliki modalitas dan pengalaman yang kuat untuk melawan ekstremisme kekerasan dan memperkuat toleransi serta moderasi beragama di dunia.

Hal itu terungkap dalam diskusi terbatas “Countering and Preventing Violent Extremism: Experiences from the United Arab Emirates and Indonesia” yang digelar secara virtual oleh Wahid Foundation bekerjasama dengan Kedutaan Besar Uni Emirat Arab di Jakarta, Senin (16/11). Bertepatan dengan momentum Hari Toleransi Sedunia pada 16 November 2020, diskusi ini membahas strategi, pengalaman, dan pembelajaran UEA dan Indonesia terkait upaya penguatan toleransi, penanggulangan dan pencegahan kekerasan ekstremisme di masing-masing negara dan di dunia internasional.

Menurut Yenny Wahid, berdasarkan pengalamannya selama ini, salah satu aksi penting untuk menangkal ekstremisme adalah pelibatan minoritas dan juga jejaring dengan negara. Ia juga menguraikan strategi yang dijalankan Wahid Foundation bersama pemerintah dan jaringan masyarakat sipil dalam menghalau intoleransi dan ekstremisme kekerasan. Yenny menjelaskan tiga strategi kunci.

“Yang pertama adalah pelibatan kelompok minoritas, perempuan, pemuda, dan kelompok rentan lainnya dalam upaya pemberdayaan. Kedua, peningkatan peran dan kapasitas organisasi masyarakat sipil dalam mengadvokasi dan mengimplementasikan nilai-nilai inklusif. Ketiga, pengarusutamaaan kebijakan dan kesadaran publik terhadap isu kesetaraan,” terang Yenny.

baca juga: Arus Ekstremisme yang tiba-tiba datang

Selain Yenny, hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut adalah Duta Besar UEA untuk Indonesia, Abdulla Salem AlDhaheri, Direktur Wahid Foundation Yenny Zannuba Wahid dan Executive Director the World Muslim Communities Council Dr. Hasan AlMarzooqi. Diskusi yang dipandu Direktur Eksekutif Wahid Foundation, Mujtaba Hamdi, itu juga dihadiri sejumlah organisasi masyarakat sipil yang bergerak di isu toleransi, pencegahan dan penanggulangan ekstremisme kekerasan, seperti Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Maarif Institute, Peace Generation, Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M), SeRVE Indonesia, The Habibie Center dan Yayasan Prasasi Perdamaian.

Abdulla Salem AlDhaheri mengatakan dalam pidatonya bahwa pemerintah UEA terus berkomitmen dan mengembangkan berbagai inisiatif untuk menanggulangi radikalisme dan terorisme. Pemerintah UEA bahkan secara khusus menunjuk Menteri Toleransi untuk memberi perhatian khusus pada isu-isu toleransi. UEA juga terus membangun sinergi dengan organisasi internasional dan berbagai negara termasuk Indonesia.

Dubes AlDhaheri lebih jauh menuturkan, sebagai wujud konkrit kolaborasi UEA-Indonesia, dalam kunjungan Presiden Joko Widodo ke UEA pada pertengahan Januari 2020 lalu, telah ditandatangani Nota Kesepemahaman (MoU) antara Dewan Nasional Keamanan UEA dan Kementerian Agama Republik Indonesia untuk melakukan beberapa upaya-upaya yang kami rasa penting untuk menghalau aksi terorisme dan mempromosikan toleransi dan moderatisme.

“Salah satu bentuk kerjasamanya adalah dengan pertukaran pengalaman dan pengembangan program untuk meningkatkan kapasitas imam agar mempromosikan nilai-nilai Islam yang moderat dan toleran,” ujar AlDhaheri.

Putri Gus Dur itu juga menambahkan. Terkait pengejawantahan strategi mengatasi ekstremisme tersebut, lanjut Yenny, dapat dilihat dalam berbagai inisatif. “Misalnya inisiatif Desa Damai dan Sekolah Damai. Kemudian juga keterlibatan aktif Wahid Foundation bersama jaringan CSO dalam penggodokan berbagai kebijakan terkait, salah satunya penyusunan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE),” imbuh Yenny.

Dr. Hasan alMarzooqi menambahkan perspektif lebih rinci mengenai strategi UEA dalam menangani intoleransi dan ekstremisme.

“Keseriusan UEA menghalau dan mengatasi kekerasan ekstremisme dilakukan melalui empat arena. Pertama hukum dan legislasi. Kedua, agama dan kebudayaan. Ketiga, media dan penerangan sosial. Keempat, pendidikan,” papar alMarzooqi.

Keempat arena tersebut menjadi wilayah utama penyemaian nilai-nilai toleransi, perdamaian, dan koeksistensi antarperbedaan untuk memperkuat masyarakat sebagai bagian yang aktif melawan dan mencegah terorisme.

Diskusi yang berlangsung sekitar dua jam ini memperlihatkan kesamaan kepentingan dan komitmen UEA dan Indonesia yang sama-sama menaungi penduduk dari berbagai latar belakang agama, etnis, dan kebangsaan. Diskusi ini menjadi wadah yang efektif untuk saling bertukar ide, pengalaman, dan pembelajaran bagi kedua negara maupun organisasi masyarakat sipil dalam mendesain intervensi yang tepat untuk mencegah dan menangani intoleransi dan ekstremisme.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here